Tokoh

Viola Meilinda, Pemuda Pelopor yang Giat Perjuangkan Hak-Hak Teman Tuli Kukar (1)

BERITAALTERNATIF.COM – Viola Meilinda Putri Prihastiwi terpilih sebagai wakil Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) di bidang pendidikan dalam seleksi Pemuda Pelopor garapan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).

Dalam seleksi Pemuda Pelopor tingkat Kukar, mahasiswi Universitas Padjadjaran Bandung tersebut berhasil menyisihkan sejumlah perwakilan pemuda dari berbagai kecamatan se-Kukar.

Kemudian, di tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Viola tengah bersaing dengan perwakilan Kota Bontang setelah mengalahkan utusan-utusan sejumlah kabupaten/kota di Kaltim.

Jika terpilih sebagai Pemuda Pelopor Kaltim, alumni SMAN 3 Unggulan Tenggarong tersebut akan bersaing dengan perwakilan-perwakilan pemuda dari seluruh provinsi di Indonesia.

Bagaimana perjuangan Viola hingga terpilih sebagai Pemuda Pelopor perwakilan Kukar? Berikut hasil wawancara kami dengan perempuan yang tengah menjabat sebagai Ketua Kutai Literasi dan Budaya Etam (Kaliya) tersebut.

Bagaimana awal mula Viola ikut dalam seleksi Pemuda Pelopor Kukar?

Sebenarnya ada Pemuda Pelopor itu saya tahu tahun 2021. Saya tahunya di Kota Samarinda. Bukan di Kabupaten Kukar. Jadi, saya pikir Pemuda Pelopor ini cuman ada di Kota Balikpapan dan Kota Samarinda. Itu di 2021.

Kemudian, terlepas dari itu, sebenarnya kan saya sudah punya beberapa program yang fokus pada teman tuli. Jadi, memang intervensinya di teman tuli dan memberdayakan teman tuli.

Saya punya satu komunitas. Namanya Kaliya. Kaliya ini menyatukan kami. Jadi, Kaliya ini fasilitator rumah belajar non-formal. Kenapa disebut fasilitator? Karena Kaliya itu sebagai jembatan antara teman dengar dan teman tuli atau mereka yang punya keistimewaan, dan juga Juru Bahasa Isyarat (JBI). Di sana kami menyatukan ketiganya.

Ada beberapa program di dalamnya: beisyaratan (pelatihan bahasa isyarat untuk teman tuli), beragau (belajar agama teman tuli), besehat (belajar kesehatan).

Nah, balik lagi tadi, kenapa saya memutuskan ikut Pemuda Pelopor? Sebenarnya itu suatu hal yang tidak direncanakan dan tidak ditujukan. Jadi, waktu itu ada salah satu guru yang pernah ketemu dengan saya. Kalau enggak salah beliau itu mengajarkan bahasa Indonesia. Terus, chat secara pribadi ke WhatsApp saya. Beliau kirim formulir itu. Beliau bilang, “Kamu termasuk pemudi kan? Yuk ikutan”.

Awalnya saya belum tertarik. Karena ada beberapa pertimbangan untuk bisa ikut tahun ini. Di antaranya juga karena saya masih menuju sidang akhir. Jadi, lagi sibuk-sibuknya. Saya lagi fokus menyiapkan Kaliya dan beberapa program di bawahnya.

Kenapa ikut Pemuda Pelopor? Awalnya tidak ditujukan untuk itu dan juga tidak direncanakan. Tapi tiba-tiba diberi petunjuk, “Yuk, kamu ikut ini”. Dari situ saya bilang, “Ah, ya sudah deh ikut aja”.

Mumpung banget kemarin saya ketemu dengan teman tuli saya. Namanya Heri. Heri itu atlet yang mewakili Kaltim di PON Papua. Dia ikut cabang olahraga renang.

Ketika bertemu dengan Heri, saya nilai dia itu adalah sosok yang kuat. Ternyata, dia adalah atlet perwakilan Kaltim di Papua. Pas mau nikah dengan teman tuli juga, karena keterbatasan biaya, dia cuman bilang begini, “Saya mau pinjam baju untuk nikah”. Saya bilang ini miris sekali. Padahal, dia adalah atlet kita yang telah membawa beberapa medali saat mewakili Kaltim. Seakan-akan tidak ada intervensi lanjutan.

Dari situ, akhirnya saya bilang, “Ada sesuatu yang memang harus kita angkat”. Ternyata, masih belum ada ruang terbuka untuk kita bisa melihat dan meluruskan stigma bahwa teman-teman disabilitas itu bisa.

Sebenarnya begitu. Awal mulanya memang enggak ada tujuan tertentu untuk Pemuda Pelopo dan sebagainya. Cuman, karena adanya satu tawaran itu, akhirnya saya mulai terketuk. Saya bilang, “Di sini saatnya menyuarakan dan mengawal teman-teman tuli”.

Pada saat mengikut seleksi Pemuda Pelopor, bagaimana prosesnya?

Kalau ikut itu kan ngisi formulir dan sebagainya. Itu pun waktu isi formulir dan beberapa persyaratan itu, termasuk “waktunya mepet banget”. Apalagi sedang sibuk-sibuknya.

Ada beberapa alurnya. Habis ngisi formulir, kita diberi jadwal. Dalam jadwal itu, tim dari kabupaten mengunjungi tempat kita. Jadi, waktu itu Dispora Kukar mengunjungi Kaliya. Pas kunjungan itu, kita presentasi di sana. Presentasi apa saja yang sudah dilakukan. Kemudian, presentasi tentang apa yang dipelopori.

Dari situ, kita hanya menunggu dari kabupaten mengolah data. Dari kabupaten dan provinsi itu sebenarnya untuk Pemuda Pelopor ada lima bidang: pendidikan, sosial budaya agama, pangan, sumber daya alam dan pariwisata, dan teknologi.

Saya ambil di bidang pendidikan. Setelah presentasi di Dispora Kukar, diolah datanya. Ternyata ada beberapa orang yang ikut. Karena di tingkat kabupaten, yang ikut ini dari tingkat kecamatan, mulai dari Anggana, Kembang Janggut, dan beberapa kecamatan lain. Salah satunya Tenggarong.

Setelah diolah datanya, diumumkan sama Dispora Kukar. Mereka bilang, “Viola, selamat ya. Kamu mewakili Kabupaten Kukar untuk bidang pendidikan”.

Jadi, di lima bidang tadi, di tingkat kabupaten itu hanya dipilih masing-masing satu orang. Misalnya kemarin di bidang pendidikan ada lima orang yang daftar, cuman diambil satu orang. Alhamdulillah saya yang mewakili Kukar.

Kalau alasan saya bisa lolos, saya kurang tahu. Tapi, beberapa persyaratannya itu biasa sih sebenarnya. Cuman isi formulir dan juga presentasi kegiatan.

Kalau terkait poin-poin penilaiannya, saya sebenarnya kurang tahu. Cuman yang saya pikir sih, namanya juga Pemuda Pelopor, sepertinya bidang-bidang kepeloporannya seberapa pengaruh gerakannya dan dampak-dampaknya. Kemungkinannya begitu.

Kalau tidak salah saya presentasi itu pada 24 Mei 2022. Saya ingat itu karena sehari setelah saya ulang tahun. Kemudian, saya dapat pengumuman lolos ke provinsi itu sekitar akhir Mei. Jadi, sampai akhir itu sekitar seminggu.

Apa yang dilakukan Viola selama proses seleksi Pemuda Pelopor sehingga bisa terpilih mewakili Kukar di tingkat Provinsi Kaltim?

Sebenarnya kita tinggal presentasi apa yang sudah dilakukan. Jadi, kalau ditanya itu, saya tidak melakukan apa-apa selama proses seleksi. Saya hanya memaparkan apa yang sudah saya lakukan di Kaliya.

Dua tahun terakhir, sebenarnya dari 2019, saya sangat interesting sama yang namanya disabilitas. Tahun 2019 itu masih general disabilitasnya. Alhamdulillah tahun 2019 itu saya dapat pendanaan. Saya bikin penelitian.

Tahun 2020, ketika saya maju sebagai Duta Bahasa Nasional mewakili Kaltim, saya mengangkat kembali isu disabilitas tersebut.

Waktu itu saya sudah bekerja sama dengan Ikatan Anak Tuli (IKAT) Samarinda. Di situ saya berkolaborasi. Kita bikin inovasi di Instagram. Buat teman-teman tuli belajar bahasa Indonesia.

Jadi, proses di kabupaten hanya presentasi apa yang sudah kita lakukan. Dari 2019 saya tertarik pada isu disabilitas. Kemudian, 2020 saya angkat isu disabilitas. Lalu, 2021-2022 saya mulai bergerak untuk fokus ke teman tuli.

Bagaimana proses seleksi di Dispora Kaltim?

Setelah semua proses selesai di Kukar, maju ke provinsi. Tahap pertama, ngumpulin beberapa persyaratan. Kemudian, kita presentasi. Presentasinya memang secara daring. Ini untuk tahap pertama.

Alhamdulillah dari Kota Samarinda, Balikpapan, Kukar, kemudian Bontang, cuman dua orang yang diambil di setiap bidang untuk lolos ke tahap dua. Kali ini, yang lolos ke tahap dua itu adalah saya yang wakili Kukar. Dan juga ada perwakilan dari Bontang.

Kalau terkait penilaian, saya sendiri enggak tahu. Memang enggak dikasih tahu poin-poin penilaiannya.

Jika lolos sebagai Pemuda Pelopor yang mewakili Kaltim, apa yang mau dilakukan Viola untuk Kaltim ke depan?

Pastinya saya akan tetap konsisten terhadap apa yang sudah saya lakukan. Jadi, dua tahun terakhir ini, Kaliya itu tempat kami bertumbuh dan belajar bersama. Di sana, selama saya membangun Kaliya, saya banyak belajar hal-hal yang kita sendiri belum sadari. Ternyata, ada banyak hal yang belum kita syukuri dari diri kita.

Ini akan tetap saya lakukan karena itu jadi bagian dari hidup saya. Saya ikut Pemuda Pelopor ini tidak semata-mata untuk mencari titel dan memperebutkan kursi kemenangan. Saya memang semata-mata berjalan dan bergerak bahwa saya dan teman tuli saat ini sedang berjuang.

Saya tidak mencoba mencari dan meraih eksistensi. Saya murni berjalan bareng-bareng dengan teman-teman tuli.

Misalnya nanti terpilih mewakili Kaltim di nasional, pasti tetap saya suarakan beberapa kegiatan kita di Kaliya. Kami sama-sama belajar. Kaliya adalah fasilitator kami dalam bentuk rumah belajar non-formal. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top