Tokoh

Mengenal Lowkey, Musisi yang Getol Menentang Zionis Israel

beritaalternatif.com – Lowkey terlahir dengan nama Kareem Dennis pada 23 Mei 1986 di London, dari ibu seorang keturunan Irak, sedangkan ayahnya adalah orang Inggris. Dia mulai menyanyi rap sejak usia 11 tahun dengan menggunakan nama panggung Lowkey. Hingga kini ia terus menggunakan nama itu.

Lowkey kemudian aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan antiperang, dan ia menyuarakan pembelaan kepada Palestina dan menjadi anggota utama dari organisasi Palestine Solidarity Campaign. Lowkey sering menyebut bahwa zionisme adalah pelaku kolonialisme dan pembantaian etnis.

Pada Februari 2009, ia melakukan perjalanan ke kamp-kamp pengungsi Palestina di sekitar wilayah Tepi Barat dalam rangka melakukan pertunjukan musik untuk melakukan penggalangan dana untuk membantu membangun kembali Jalur Gaza. Tapi, di bandara Israel ia ditahan oleh polisi Israel selama sembilan jam, diinterogasi, sementara paspornya disita. Pada tahun yang sama, ia melakukan perjalanan ke Gaza untuk membawa bantuan medis untuk orang-orang Palestina di Jalur Gaza.

Bulan Juli tahun 2010 dia kembali ke Palestina untuk melakukan sejumlah konser dan loka karya musik di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat. Polisi Israel kembali menahannya selama dua belas jam, sampai muncul petisi online menuntut pembebasannya. Dia pun dibebaskan.

Di antara lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Lowkey tentang Palestina berjudul “Long Live Palestine” yang dirilis secara digital pada 9 Maret 2009. Lagu itu dirilis ulang dengan melibatkan banyak artis lainnya. Popularitas Lowkey seiring dengan suara dukungannya yang konsisten terhadap perjuangan Palestina, membuat kalangan pendukung Israel khawatir.

Pada Januari 2011, Marcus Dysch menulis untuk The Jewish Chronicle dan mengatakan bahwa peningkatan pengaruh Lowkey dalam penggalangan dukungan bagi Palestina akan membawa ‘mimpi buruk’ bagi Israel.

Aksi Boikot Lowkey

Awal Maret 2022, lobi Israel (kelompok pro-Zionis) di Inggris kembali memulai aksi-aksi mengintimidasi Lowkey secara terorganisir, antara lain memaksa Palestine Solidarity Society di Universitas Cambridge membatalkan kuliah umum Lowkey di kampus itu, juga menghalangi Lowkey hadir di Persatuan Mahasiswa Nasional (National Union of Students) di Liverpool.

Lalu, kelompok pro-Zionis “We Believe in Israel” menuntut Spotify agar menghapus lagu-lagu Lowkey dari layanan streaming musik Spotify. Hal ini membuat banyak musisi yang angkat suara, memberikan pembelaan kepada Lowkey. Begitu juga akademisi, politisi, aktivis, dll. Nama-nama besar akademisi Yahudi anti-Israel pun ikut serta, seperti Noam Chomsky (University of Arizona), Avi Shlaim (Profesor Emeritus Hubungan Internasional, University of Oxford), dan Ilan Pappé (professor sejarah, Exeter University).

Mereka ini menggalang petisi, antara lain berisi, “Dengan ini kami menyerukan Spotify dan semua platform lain untuk tidak tunduk pada kelompok penekan yang lebih suka musiknya dihapus daripada menangani masalah yang dia soroti dalam musiknya.”

Organisasi Lobbyist Zionis di Inggris

Perdebatan mengenai Lowkey, antara pro-kontra kemudian semakin meluas sehingga menyeret Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. Pasalnya, Johnson ditanyai oleh anggota Parlemen Inggris mengenai inisiatif National Union of Students untuk mengundang Lowkey. Rencananya, Lowkey akan tampil di University of Cambrige untuk bicara mengenai “The Israel Lobby’s War Against You” yang akan mengungkap Union of Jewish Students (Persatuan Mahasiswa Yahudi) di kampus memiliki hubungan keuangan dan ideologi dengan pemerintah Israel. Persatuan Mahasiswa Yahudi telah memberikan tekanan keras sehingga acara itu ditunda.

PM Boris Johnson merespons di Parlemen, “Universitas-universitas di Inggris sudah terlalu lama toleran terhadap sikap-sikap antisemitisme yang umum, maupun antisemitisme yang sistematis”. Ia berharap, “Semua pihak memahami kebutuhan akan perubahan yang cepat dan tidak tergoyahkan.” Dan untuk itu, kata Johnson, Inggris membutuhkan satuan tugas antisemitisme baru yang “dikhususkan untuk membasmi” permasalahan di semua tingkat sistem pendidikan. Pernyataan ini memberi kesan bahwa seluruh gerakan mahasiswa pro-Palestina kini terancam.

Pers Inggris juga mencoba menyulut kemarahan publik. Tabloid sayap kanan The Daily Mail, Daily Telegraph, The Jewish Chronicle, misalnya, memuat artikel yang menjelek-jelekkan Lowkey dan menyebutnya anti-Semit. Di masa ketika sedang ada perang, pandemi global, serta endemik kemiskinan dan ketidaksetaraan, Radio LBC malah meluangkan waktu dua segmen hanya untuk membahas masalah ini.

Menurut Asa Winstanley, jurnalis Inggris yang juga aktivis anti-Israel, penelitian lebih lanjut terhadap tokoh dan organisasi di balik histeria media (yang mengecam) Lowkey menunjukkan bahwa fenomena ini bukan gelombang kemarahan biasa, melainkan sebuah gerakan yang secara tersistematis dirancang untuk membungkam kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel.

Bila dilacak, semua pihak yang bersuara lantang dalam kasus ini terbukti memiliki keterkaitan kuat dari segi keuangan dan ideologi dengan negara Israel. Union of Jewish Students (UJS), misalnya, mencantumkan “keterlibatan dengan Israel” sebagai salah satu dari empat “nilai utama” organisasi mereka, menunjukkan bahwa mereka dengan penuh semangat dan bangga merayakan hubungan mereka dengan negara Zionis itu.

Sebuah investigasi yang dilakukan Al-Jazeera mengungkap bahwa UJS  diam-diam didanai oleh Kedutaan Besar Israel di London, yang selanjutnya mempekerjakan operator UJS yang tampak menonjol. Dalam sebuah acara bulan November tahun lalu, Presiden UJS, Nina Freedman berbicara kepada Presiden Israel Isaac Herzog, dengan bangga menyatakan bahwa “alumni UJS saat ini menjabat posisi senior di pemerintahan Israel, Kementerian Luar Negeri, IDF (militer Israel), dan bahkan kantor kepresidenan.”  

Freedman selanjutnya mengatakan, “Kami berkomitmen untuk menyoroti secara positif keberhasilan Israel. Kami juga mendorong mahasiswa untuk aktif berperan dalam membela Israel.”

“UJS berada di garis depan melawan antisemitisme, anti-Zionisme dan BDS (Boycoutt, Divestment, and Sanction),” tambahnya.

Organisasi lain yang mengincar Lowkey juga memiliki koneksi serupa dengan negara Israel dan rencana ekspansionisnya, menimbulkan pertanyaan serius tentang identitas dan tujuan mereka yang sebenarnya. Misalnya, Kampanye Menentang Antisemitisme (The Campaign Against Antisemitism–CAA), diketuai oleh Gideon Falter, yang juga menjabat wakil ketua Dana Nasional Yahudi (JNF) Cabang Inggris, sebuah organisasi yang membantu membangun pemukiman ilegal di Palestina, yang artinya berkontribusi pada proses pembersihan etnis. JNF Inggris juga menyediakan uang untuk program rekrutmen IDF (tentara Israel).

Kaitan dengan Ukraina

Pers Inggris tampaknya semakin marah akibat pernyataan Lowkey di acara podcast yang dipandunya, The Watchdog.

Dalam acara itu, Lowkey mengatakan bahwa keyahudian Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, telah dimanfaatkan oleh media untuk menutupi kenyataan bahwa pemerintah Inggris telah mempersenjatai dan memberi pelatihan kepada kelompok Nazi di Ukraina. Padahal, baru beberapa waktu sebelumnya (sebelum intervensi Rusia di Ukraina) banyak media mainstream yang memperingatkan bahwa banyak lembaga negara di Ukraina sedang dikuasai oleh kaum fasis.

Misalnya, di (program TV) Fox and Friends, mantan petugas CIA Dan Hoffman menyatakan bahwa “Rusia berbohong ketika mengatakan menyerbu Ukraina untuk melakukan denazifikasi—bagaimanapun juga presiden mereka adalah orang Yahudi.”  Di MSNBC, Senator Mark Warner (D-VA) mengatakan “Terminologi Putin, keterlaluan dan menjengkelkan, ia mengatakan ‘denazifikasi’ di saat jelas-jelas Ukraina memiliki presiden Yahudi.” Di CNN, Letnan Kolonel Alexander Vindman mengatakan bahwa klaim adanya Nazi di Ukraina “sangat tidak masuk akal, benar-benar tidak ada manfaat… Bukankah Volodymyr Zelenskyy adalah orang Yahudi. Tidak ada narasi Nazi di sini, itu adalah narasi fasis, itu dibuat sebagai dalih.”

Pernyataan Lowkey tentang Ukraina sama sekali tidak anti-Semit, atau mencoba untuk membenarkan invasi Rusia. Menurut Asa Winstanley,  jurnalis Inggris, “Saya setuju dengan pernyataan Lowkey bahwa fakta keyahudian Presiden Ukraina telah dijadikan tameng untuk melindungi keberadaan Nazi di Ukraina. Tidak ada yang mengatakan bahwa Zelensky sebagai seorang Neo-Nazi atau bahkan pemerintah Ukraina adalah pemerintahan Nazi. Namun tidak ada keraguan bahwa negara Ukraina sejak 2014 benar-benar didominasi oleh sayap kanan–khusunya militer Ukraina.”

Ironisnya, Lowkey justru dituduh antisemit (anti Yahudi) karena menentang pendanaan, pengiriman senjata, dan pelatihan yang dilakukan Inggris terhadap kelompok Nazi. (Bukankah Yahudi katanya bermusuhan dengan Nazi?)

Opini Publik Semakin Pro-Palestina

Terlepas dari berbagai upaya keras kelompok-kelompok pro-Israel, simpati publik untuk Palestina dan kemampuan mereka mengidentifikasi apa yang sesungguhnya terjadi di Palestina kini semakin marak di kalangan universitas dan di masyarakat umum. Dalam jajak pendapat bulan Februari 2022 yang dilakukan oleh YouGov menunjukkan bahwa sekarang ini jumlah orang Inggris yang pro-Palestina dua setengah kali lebih banyak (27%) dibanding jumlah orang Inggris yang simpati kepada Israel (11%).  

Pekerjaan tak kenal lelah dari para aktivis dalam mengungkap kejahatan Israel telah menyebabkan berbagai organisasi internasional, seperti PBB, Human Rights Watch, Amnesty International, dan Harvard Law School mengidentifikasi Israel sebagai Rezim Apartheid. Kerumunan massa pro-Israel mungkin telah memenangkan pertempuran kecil dalam membungkam Lowkey untuk tidak tampil di kampus bulan Maret lalu, namun sesungguhnya mereka kalah dalam perang memperebutkan hati dan pikiran di tengah masyarakat Barat. (*)

Sumber: icmes.org

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top