Tokoh

Sopiar Sebut Keikhlasan dan Kesabaran sebagai Modal Perjuangan Kader-Kader HMI

beritaalternatif.com – Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kutai Kartanegara (Kukar) Sopiar menyampaikan sejumlah nasehat kepada kader-kader yang tengah berkiprah di organisasi tersebut.

Ia mengatakan, kader-kader HMI harus terus berusaha mengubah perilaku mereka ke arah yang lebih baik.

Setiap kader HMI, lanjut dia, mesti memiliki kesadaran sebagai manusia, masyarakat, dan generasi bangsa yang berpendidikan.

“Yang tadinya agak bandel, sekadar kuliah, setelah di HMI harus memiliki kesadaran bahwa kuliah bukan hanya untuk cari duit,” ucapnya kepada beritaalternatif.com baru-baru ini.

Ilmu dan Dialektika Kehidupan

Selain itu, setiap kader harus mempertegas orientasi serta nilai-nilai yang menjadi sumber aspirasi perjuangan HMI.

Kata dia, belajar di HMI bukanlah untuk meningkatkan strata sosial berupa materi dan jabatan. Melainkan sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah atas ilmu yang didapatkan selama menempuh pendidikan di kampus dan organisasi.

Ilmu yang didapatkan kader-kader HMI, sambung Sopiar, harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan umat dan bangsa. “Bukan hanya untuk kepentingan pribadi kita,” imbuhnya.

Untuk menerapkan nilai-nilai tersebut, saat belajar setiap kader tak hanya sekadar menghafal berbagai pelajaran. Mereka harus memahami esensi yang terkandung dalam berbagai materi yang tersaji di HMI.

Dalam setiap zaman, sebut dia, selalu terjadi dialektika antara kebaikan dan keburukan. Secara umum, inilah inti daripada ajaran dalam Alquran.

Ia mencontohkan di zaman Nabi Musa. Terjadi pertarungan antara Musa dan Firaun. Begitu juga di masa kenabian Ibrahim. Dia mendapatkan perlawanan sengit dari Namrud.

“Dengan begitu, kita bisa mengukur apakah kita sudah menyimpang atau tidak,” jelasnya.

Ia menjelaskan, untuk mengukur posisi personalnya, setiap kader harus memahami inti setiap ajaran atau nilai.

Secara personal, Sopiar mengaku bukanlah pribadi yang selalu berada dalam posisi benar. Pasalnya, setiap diri memiliki nafsu.

“Tidak ada yang lurus terus. Pasti ada terselip kesalahan. Karena kita bukan orang suci,” ujarnya.

Meski begitu, setiap diri diberikan kesempatan untuk bertobat melalui istighfar. Inilah fungsi memohon pengampunan dari Allah SWT.

Keikhlasan sebagai Landasan

Sopiar juga menyampaikan, setiap hal yang dilakukan oleh kader-kader HMI seyogyanya dilandasi keikhlasan, yang dalam wujudnya menempatkan Allah sebagai tujuan dalam beramal.

“Semua yang kita lakukan itu harus karena Allah. Nilai-nilai itu yang harus ditanamkan kepada setiap kader HMI,” sarannya.

Ia menyebutkan, untuk menjadi manusia yang ikhlas, “ego personal” mesti dilebur dalam “ego ketuhanan”.

“Bayangkan Nabi Ibrahim baru bertemu dengan Nabi Ismail tiba-tiba disuruh menyembelihnya. Mana yang harus dia pilih? Cinta Tuhan atau cinta anaknya? Itulah ego,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Nabi Ibrahim digoda oleh iblis. Namun, karena ia merupakan nabi yang hanif, lurus, dan taat, dia pun mengikuti perintah Allah.

“Dan anaknya juga menerima perintah itu. Dia ikhlas untuk disembelih. Maknanya di situ apa? Keikhlasan. Keegoan diri yang harus dikubur,” terangnya.

Apabila ego personal telah dilebur dalam ego ketuhanan, kata dia, maka setiap diri tidak akan terganggu dengan penghinaan dan pujian dari manusia.

Penghinaan dari seseorang terhadap pribadi tertentu, lanjut Sopiar, bisa saja berasal dari kehendak Allah untuk meningkatkan derajatnya.

“Inilah makna lain dari sabar. Jadi, sabar dan ikhlas itu saling beriringan,” katanya.

Posisi Ideal Materi

Sopiar menegaskan, teknologi merupakan “alat” yang berasal dari pikiran manusia. Sebagai alat, seyogyanya teknologi ditempatkan untuk memudahkan manusia agar sampai pada tujuannya.

Mereka yang berpaham materialis akan melihat dan menilai setiap orang dari kedudukan sosial berupa harta dan jabatan.

Kesuksesan seseorang akan dinilai dari kepemilikan mobil, motor, dan kekayaan-kekayaan material lainnya.

“Jangan sampai terjebak di situ. Itu permainan dunia. Pahami bentuk dan intinya,” saran dia.

Jika kader-kader HMI memahami hal tersebut, kata Sopiar, maka mereka tidak akan terpengaruh dan silau dengan berbagai perkembangan teknologi serta hal-hal yang bersifat material.

“Itu tergantung aspek kedirian kita yang meresponnya. Kalau diri sudah sampai pada makam mutmainnah, enggak mungkin lagi silau dan terbuai dengan materi,” jelasnya.

Ia menekankan, hal ini tidak berarti alat atau materi tidak boleh dimiliki oleh setiap kader HMI.

“Tapi itu harus ditempatkan untuk memudahkan kita sampai pada tujuan sebagai hamba Allah,” ucapnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top