Opini

Falasi Menyanjung UEA, Menghina Yaman (2)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Tak perlu melek geopolitik amat untuk paham bahwa kesejahteraan dan kemakmuran kerajaan yang berlagak republik di Teluk Persia ini justru dibangun dari puing-puing kehancuran Yaman yang diagresi UEA secara brutal. Lagi pula, kegagalan (kemelaratan) Yaman, yang kerap diolok-olok para penganjur toleransi (karena terbiasa mengidentikkannya dengan beberapa ekstremis yang dicap kadal gurun) adalah buah agresi, penjarahan, dan intervensi UEA dan saudara kembar minarkisnya, yaitu Arab Saudi.

Pada 2019, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa Yaman telah menjadi negara yang paling membutuhkan bantuan kemanusiaan. Krisis kemanusiaan itu menyengsarakan sekitar 24 juta orang, atau 85% dari total populasinya. Pada 2020, negara ini menempati peringkat tertinggi dalam Indeks Negara Gagal, terburuk kedua dalam Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index), hanya dilampaui oleh Republik Afrika Tengah, dan memiliki Indeks Pembangunan Manusia terendah di antara semua negara-negara non-Afrika.

Yaman menjadi gagal dan miskin bukan karena tak punya kekayaan alam atau terbelakang secara alamiah, tapi akibat dimiskinkan dan dirampok oleh rezim-rezim monarki Saudi dan UEA yang disetir rezim arogan AS.

Yaman di masa lalu dikenal sebagai negeri paling subur di Semenanjung Arabia. Curah hujannya cukup setiap tahunnya. Saking suburnya tanah Yaman, ahli geografi Yunani yang hidup pada abad kedua, Ptolemy, bahkan menyebut negeri itu sebagai Eudaimon Arabia (dalam terjemahan versi latin disebut Arabia Felix) yang berarti ‘Arabia yang Sejahtera’.

Di masa silam, Yaman adalah rumah bagi Kaum Saba’, sebuah daulat perdagangan yang mencakup sebagian dari Etiopia dan Eritrea hari ini. Kemudian pada 275 M, Kerajaan Himyar dipengaruhi oleh Yudaisme. Kekristenan tiba pada abad keempat. Islam menyebar dengan cepat pada abad ketujuh dan pasukan Yaman memiliki peran yang krusial atau sangat penting pada awal penaklukan Islam. Beberapa dinasti muncul pada abad ke-9 hingga ke-16, seperti Dinasti Rasuliyah. Daulat ini lalu dipartisi di antara kerajaan Ottoman dan Inggris pada 1800-an.

Pada 25 SM, ekspedisi militer bangsa Romawi di bawah pimpinan Aelius Gallus berusaha menaklukkan Saba’, tapi gagal. Armada Gallus ketika itu hanya mampu menghancurkan Pelabuhan Aden untuk menjamin rute perdagangan Romawi ke India.

Selepas ekspedisi militer Romawi, kondisi politik di Yaman berada dalam kekacauan. Negeri itu akhirnya menjadi objek perebutan pengaruh dua suku besar, yaitu Bani Hamdan dan Bani Himyar. Sekitar akhir abad pertama Masehi, suku Himyar menganeksasi Kota Sana’a dari tangan Bani Hamdan. Selanjutnya, mereka juga berhasil menaklukkan Hadramaut, Najran, dan Tihama pada 275 M.

Sekitar 570 M, Dinasti Sasaniyah dari Persia menganeksasi Kota Aden. Di bawah pemerintahan imperium tersebut, sebagian besar daerah di Yaman memperoleh otonomi yang luas, kecuali Aden dan Sana’a. Era tersebut menandai runtuhnya peradaban Arab kuno di Yaman.

Selama lebih dari dua milenium sebelum kedatangan Islam, Yaman adalah rumah bagi serangkaian negara kota dan kekaisaran yang kuat dan kaya, yang kemakmurannya sebagian besar didasarkan pada kendali mereka atas produksi kemenyan dan mur, dua komoditas paling berharga di dunia kuno, dan akses eksklusif mereka ke komoditas mewah non-Yaman seperti berbagai rempah-rempah dan bumbu dari Asia selatan dan bulu burung unta dan gading dari Afrika timur.

Tiga kerajaan paling terkenal dan terbesar adalah Minaean (Maʿīn), Sabaean (Sabaʾ, alkitabiahSheba), dan Ḥimyarite (Ḥimyar, disebut Homeritae oleh orang Romawi), yang semuanya dikenal di seluruh kawasan Mediterania kuno; periode kekuasaan mereka agak tumpang tindih, membentang kira-kira dari 1200 SM sampai 525 M.

Islam menyebar dengan mudah dan cepat di Yaman. Mungkin itu disebabkan abad kemerosotan ekonomi dan perilaku kejam, baik orang Yahudi maupun Kristen selama kurun itu. Nabi Muhammad Saw mengirim menantu laki-lakinya sebagai gubernur, dan dua masjid paling terkenal di Yaman—yaitu di Janadiyyah (dekat Ta’izz) dan Masjid Agung di Sanaa (dikatakan telah memasukkan beberapa bahan dari struktur Yahudi dan Kristen sebelumnya)—adalah dianggap sebagai salah satu contoh awal arsitektur Islam.

Kembali ke masa kini, sejak awal agresi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan UEA, dengan partisipasi tujuh belas negara, dengan melakukan operasi udara, darat, dan laut selama hampir delapan tahun Yaman dihancurkan agar tetap miskin dan gagal. Akibat agresi brutal Saudi dan UEA itulah, situasi ekonomi memburuk, jaringan air memburuk, listrik memburuk, situasi keamanan memburuk.

Kekayaan provinsi selatan menjadi lebih rentan terhadap penjarahan. Selain Pulau Socotra yang masih dicaplok UEA, terdapat Selat Bab al-Mandab, Pulau Mayon yang terletak di dekatnya, sejumlah pulau, pelabuhan, gas utama fasilitas di Balhaf, dan sumur minyak di gubernuran selatan.

Paling tidak, Yaman yang dihina oleh orang-orang yang terlihat gagal membedakan nasionalisme dan chauvinisme juga rasisme itu adalah salah satu dari 8 negara yang pertama kali mendukung kemerdekaan Indonesia jauh sebelum negeri super makmur UEA lahir.

Terakhir, menghina Yaman sebagai sebuah negara dan bangsa, dengan tujuan mendiskreditkan segelintir pelaku politik identitas dari warga keturunan Yaman, adalah perbuatan mencerminkan rendahnya simpati dan rasa humanitas. (*Cendekiawan Muslim)

Sumber Foto: Moslem Today Via Nu.or.id

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top