Opini

Shireen

Oleh: Dina Sulaeman*

Shireen artinya manis, dalam bahasa Farsi. Kalimat “gula itu manis,” nah ‘manis’ di sini akan pakai kata ‘shireen.’ Kata ini banyak dipakai oleh orang-orang Iran dan Arab untuk menamai anak-anak perempuan mereka.

Shireen Abu Aqla adalah seorang jurnalis senior Palestina, lahir di Jerusalem, tahun 1971. Ia lahir dari keluarga penganut Katolik di Bethlehem, lalu sempat tinggal di AS bersama keluarga ibunya, sehingga akhirnya memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat. Shireen menempuh pendidikan di bidang jurnalistik di universitas di Yordania, lalu kembali ke Palestina dan menjadi wartawan.

Kemarin (11 Mei 2022), dalam usianya ke-51 tahun, Shireen ditembak tentara Israel saat ia dan beberapa jurnalis Palestina lainnya meliput serangan Israel ke Jenin (Tepi Barat). Jurnalis yang sedang bertugas di wilayah konflik dilindungi oleh International Humanitarian Law: baik orang (si jurnalis) maupun peralatan liputannya (kamera, dll) tidak boleh diserang.

Saat Shireen ditembak, ia menggunakan jaket bertulis “PRESS” dan helmet. Shireen ditembak dari arah depan, dekat telinga, yang tidak terlindungi helmet. Ini menunjukkan bahwa ia ditarget secara sengaja dan ditembak dengan presisi.

Saya membuat video kompilasi dua menitan, yang isinya: detik-detik ketika Shireen dan rekannya ditembaki sniper Israel.

Juga upacara doa dari pendeta untuk Shireen, lalu jasadnya kemudian diusung dengan diiringi suara takbir, dan seruan bahwa ia adalah seorang syahid. Ini menunjukkan bahwa perjuangan Palestina adalah perjuangan bangsa terjajah, dan bangsa Palestina terdiri dari berbagai agama.

Artinya, jargon-jargon “toleransi” yang dibawa para buzzer Israel jelas omong kosong, karena buktinya, Israel-lah yang tidak pernah bertoleransi, semua orang Palestina jadi korbannya, baik Muslim, Kristen, maupun Arab-Yahudi. Mereka berceramah soal toleransi adalah untuk menutupi kejahatan Israel. Toleransi macam apa yang harus diberikan kepada penjajah dan pelaku kejahatan kemanusiaan?

Kemudian, kutipan video Shireen yang mengatakan “sulit untuk mengubah realitas, tapi minimalnya saya menyampaikan suara mereka (bangsa Palestina) kepada dunia”. Ini kalimat yang sangat relate bagi saya.

Terakhir, pernyataan Shatha Hanaysha, jurnalis perempuan yang tepat di sebelah Shireen saat ditembak, ia pun ditembaki, tapi lolos dari maut. Jurnalis muda ini tumbuh besar dengan mengagumi Shireen, dan sejak kecil sudah bercita-cita menjadi jurnalis seperti Shireen. Ia mengatakan, “Kami tidak akan berhenti.” (*Pengamat Timur Tengah)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top