Opini

Akar Pergolakan Dunia saat Ini: Korporasi Besar Vs Orang Kuat

Oleh: Mentimoen*

Di permukaan, sepertinya ada perseteruan kelompok kiri vs kanan. Tetapi sebenarnya di lapisan bawah, arus yang sedang bergeliat membuat event-event dunia saat ini adalah usaha korporasi raksasa untuk menguasai.

Korporasi itu sendiri bukan kekuatan demokratis, karena pengambilan keputusan dilakukan dengan memaksimalkan keuntungan pemegang saham (walaupun kini disepuh dengan istilah “stakeholder“). Intinya kekuatan uang yang berperan terhadap arah korporasi.

Kekuatan di belakang korporasi bekerja diam-diam. Tujuannya untuk melanggengkan dan membesarkan peran setiap korporasi di mana-mana. Korporasi menguasai hampir seluruh aspek kehidupan di Amerika saat ini, termasuk penguasaan media, penguasaan platform sosial media, dan sebagainya.

Warga dari bangun sampai tidur lagi, seluruhnya harus berurusan dengan korporasi, dari tempat bekerja, tempat berekreasi, media rekreasi, media informasi, sampai apa yang dimakan hampir semua tersentuh korporasi. Korporasi besar masuk dalam semua aspek kehidupan di Amerika.

Korporasi besar menguasai politik lewat pembentukan opini publik. Opini publik dibentuk media-media yang dikuasai korporasi. Platform sosial media tempat warga berinteraksi pun tidak luput dari pengarahan dan bahkan sensor. Setiap politisi di Amerika bisa dibilang adalah agen korporasi.

Sistem politik yang paling menguntungkan korporasi adalah sistem demokrasi liberal ala Amerika. Dalam sistem ini, korporasi bisa menguasai politik, karena opini umum dibentuk oleh korporasi. Nyoblos setiap beberapa tahun sekali itu cuma formalitas di mana isunya dikuasai korporasi.

Pertentangan yang muncul sering merupakan pertentangan antar korporasi di belakangnya. Ada korporasi yang terlihat “kiri” karena bisnisnya memang mengandalkan hal itu. Ada yang terlihat “kanan” dengan alasan serupa. Mereka bertentangan, tetapi antar mereka juga lebih cepat bekerja sama.

Karena itulah, dalam politik Amerika, tidak ada lagi tokoh-tokoh besar yang bisa lahir. Yang paling “anomali” dalam era-era terakhir adalah Donald Trump, tetapi dia pun pada dasarnya bagian dari korporasi. Dan dia juga dihancurkan oleh korporasi lawannya yang menguasai media mainstream.

Tokoh-tokoh politik hanya boleh “populer”, tetapi tidak boleh dibiarkan benar-benar kharismatik sehingga kekuasaannya melampaui korporasi. Tokoh-tokoh kharismatik bisa mengubah jalan negara secara drastis di luar jangkauan korporasi dan itu merupakan potensi bahaya bagi korporasi.

Tidak ada lagi tokoh-tokoh besar yang boleh muncul seperti yang terjadi sesudah era Perang Dunia II di seluruh dunia. Dari Barat sampai ke negara-negara Asia-Afrika, muncul tokoh-tokoh sejarah yang menentukan bangsanya. Kondisi ini akan dicegah untuk terjadi pada saat ini.

Media-media korporasi Amerika meluncurkan isu saat ini adalah pertikaian antara “demokrasi vs otokrasi”. Itu cuma sarana pembentukan opini umum. Yang terjadi sebenarnya adalah “korporasi besar vs orang besar”.

Tokoh-tokoh besar sering tidak membutuhkan dana korporasi untuk mempertahankan ketokohannya, karena mereka dipuja secara fanatik. Mereka didengar oleh rakyat tanpa perlu corong media-media korporasi. Korporasi sukar menjadikan tokoh-tokoh seperti itu “agen” mereka.

Ini cara media-media korporasi besar Amerika menentukan tokoh-tokoh mana yang akan mereka dukung dan mana yang akan mereka sikat. Mereka mendukung tokoh-tokoh yang lebih lemah; yang lebih gampang tunduk pada mereka. Tokoh-tokoh kuat akan dilemahkan dengan kampanye massal yang membuat tokoh-tokoh itu seperti setan saja.

Contoh, setelah naiknya Xi Jinping yang jelas-jelas memperlihatkan ciri tokoh besar, media-media dan pundit-pundit Amerika mulai merindukan tokoh presiden terdahulu seperti Hu Jintao. Bahkan Hu Jintao dianggap tokoh pro kemajuan dan pro keterbukaan. Amerika merindukan kembalinya pimpinan China seperti Hu.

Demikian juga dengan Putin. Itu tokoh besar yang terlalu hardcore untuk kepentingan korporasi Amerika. Mereka merindukan datangnya tokoh-tokoh seperti Boris Yeltsin yang membolehkan mereka masuk menguasai tanpa hambatan.

Tokoh-tokoh apa yang disukai oleh korporasi Amerika? Adalah tokoh-tokoh vokal tetapi secara kekuatan tidak terlalu kuat. Vokalnya mengusung inti-inti ide yang ingin ditanamkan, seperti demokrasi liberal, HAM, tetapi tidak dengan ide-ide seperti kemandirian, nasionalisme, mengejar ketinggalan teknologi, dan sebagainya.

Karena masyarakat yang dibungkus dalam ide demokrasi liberal ala Amerika adalah tanah subur bagi korporasi-korporasi besar dengan kekuatan pembentukan opini publik, dan uang-uang besar dicurahkan untuk kampanye-kampanye politik. SJW termasuk disukai karena punya sifat-sifat di atas.

Ini menjelaskan kenapa Amerika mendukung Wapres Leni Robredo ketimbang Ferdinand Marcos Jr sebagai Presiden Filipina. Karena Marcos dianggap berpotensi menjadi “orang kuat”, sedangkan Leni Robredo sampai mati pun adalah orang yang bisa dikendalikan dengan mudah.

Kenapa Marcos menang dengan perbedaan suara besar sekali? Saya menduga karena warga Filipina merindukan “orang kuat”. Mereka memilih Presiden Duterte pada periode silam, dan Marcos pada periode ini–Presiden di Filipina hanya bisa menjabat 1 periode atau selama 6 tahun.

Politisi-politisi yang menggantungkan diri pada Amerika seperti Leni Robredo tidak diharapkan mampu mengangkat kesejahteraan rakyatnya, tidak mampu menciptakan keamanan. Gara-gara mereka bosan dengan kriminalitas, mereka memilih Duterte pada periode silam, karena Duterte sadis dengan kriminal.

Jadi, pergolakan-pergolakan di dunia saat ini yang disulut dari Amerika pada dasarnya adalah perang Korporasi besar melawan lahirnya orang-orang kuat di negara-negara lain. Kondisi yang diinginkan korporasi Amerika adalah seperti yang digambarkan Fukuyama dalam The End of History. (*Penulis merupakan pegiat media sosial yang aktif menulis berbagai isu politik dunia)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top