Opini

Relawan Tajir Penikmat Donasi

Oleh: Leonita Lestari

Pada Maret 2019 nama Herman atau Abah Nur, pengemis asal Cisauk, Camping, Cibungbulang, Kabupaten Bogor viral. Dalam pengakuannya saat diperiksa, dalam sehari ia mengaku bisa mendapatkan uang antara Rp 150.000 hingga Rp 200.00.

Bukan penghasilan hariannya kita dibuat kaget, pengemis itu dianggap terlalu keren, dia diketahui membawa mobil saat mengemis di Yasmin Bogor.

Segera saja isu yang lain, isu yang lebih bombastis lagi menyusul. Dari bisa naik haji hingga punya istri tiga lebih banyak kita bicarakan. Pada cerita yang lain, pada sosok pengemis bernama Legiman dari Pati, Jawa Tengah, ia juga menuai viral.

Pada 2019 petugas mengamankan Legiman di kawasan Simpang Lima, Pati, Jawa Tengah. Saat diminta keterangan, Legiman mengaku punya harta kekayaan senilai lebih dari Rp 1 miliar.

Saat ditangkap, ia membawa uang tunai senilai Rp 695.000. Konon dia mampu mengantongi uang Rp 1 juta per hari.

Pun Siwari Wahyuningsih, pengemis di Semarang yang memiliki uang deposito Rp 140 juta, tabungan Rp 16 juta, 3 BPKB motor, hingga seorang pengemis bernama Arif Komady dari Sampit, Kalimantan Tengah yang juga memiliki mobil sedan, kartu ATM dan bahkan kartu kredit adalah cerita lain tentang tajir mereka sebagai pengemis di Indonesia.

Mereka adalah contoh sukses sosok yang jeli membaca peluang. Mereka juga pintar membaca gelagat masyarakat kita yang mudah iba. Mereka akan terus mencari dan mempertahankan kemiskinan tetap berjalan seiring dengan mereka mempertahankan kelangsungan hidup lembaga donasi.

Apakah itu salah? Pada tampilan gembel mereka ada unsur menipu adalah soal image belaka. Mereka tak memaksa kita. Kitalah yang dengan senang hati mengulurkan tangan karena rasa iba.Pada pengemis berdasi, pada para penjual kesedihan dan kesengsaraan atas sebuah peristiwa bencana misalnya, mereka membuat yayasan.

Kesadaran bahwa kemiskinan dan kelaparan adalah obyek paling menarik bagi bisnis kemanusiaan telah membuat sekelompok orang bermental pengemis mencontoh para pengemis sukses itu.

Tak harus tampil dengan fisik cacat dan gimmick memelas menandakan lapar dan miskin demi meraih simpati, mereka hanya butuh gambar dan berita, lalu siapkan rekening.

Dengan berdasi, mereka justru mampu mengumpulkan uang jauh lebih banyak atas keterlibatan masyarakat secara masif.

Konon ACT atau Aksi Cepat Tanggap diberitakan telah berlaku seperti itu. ACT sebagai lembaga nirlaba sedang dilanda prahara manajemen. Itu kata Tempo.

Hasil laporan penelusuran Tempo berkata bahwa Ibnu Khajar (Presiden ACT saat ini) mendapat gaji Rp 250 juta/bulan. Sudah gitu, petinggi lainnya sekelas Senior Vice President pun bergaji Rp 150 juta/bulan.

Bila benar, mereka-mereka itulah pengemis berdasi. Iba masyarakat mereka kejar dan kemiskinan serta kelaparan mereka maknai sebagai dagangan.

Mereka auto tajir hanya karena donasi masyarakat. Bila para pengemis itu kita sebut benalu, para auto tajir ini adalah produk mentalitas memalukan. Benalu hanya tumbuh dan menghisap nutrisi pada pohon yang sehat, para memalukan ini hidup dari duka dan sengsara rakyat.

Kok pengemis ditangkap tapi yang lebih parah justru dibiarkan? Mimpimu ketinggian bila berharap kaum ningrat itu dapat segera digulung. Dan itu konsisten dengan kisah pengusutan Kanjeng Raduwe Malu Tenan itu kan? Paling tidak, dia tak kunjung runtuh meski kisah adanya puluhan jelata yang dengan mudah digulung saat berlaku sepertinya sudah menjadi fakta hukum. “Tumpul ke atas tajam ke bawah,” kata Paimo.

Jadilah pejabat, jadilah pesohor dengan banyak pengikut militan, jadikan dirimu punya strata itu, maka privilege akan datang dengan sendirinya. (Sumber: Twitter)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top