Opini

Dialektika sebagai Kemestian dalam Kehidupan

Oleh: Iven Hartiyasa*

Pikiran hanya dapat melihat satu kutub. Realitas adalah dua kutub yang berlawanan. Pikiran hanya dapat melihat satu ekstrem, satu ekstrem yang lain tersembunyi dan pikiran tidak dapat menembusnya. Jika kita tidak melihat kedua titik ekstrem yang berlawanan ini bersama-sama, kita tidak akan pernah dapat melihat apa adanya. Apa pun yang kita lihat akan salah karena itu hanya sebagian.

Ingat, kebenaran adalah keseluruhan. Jika hanya setengahnya, ini bahkan lebih berbahaya daripada kebohongan, karena setengah kebenaran membawa rasa benar dan rasa tidak benar. Kita tertipu olehnya. Mengetahui kebenaran berarti mengetahui keseluruhan (utuh) dalam segala hal.

Misalnya, engkau melihat ada sesuatu yang bergerak. Apakah gerakan itu mungkin terjadi tanpa sesuatu yang tersembunyi di dalamnya yang tidak bergerak? Gerakan tidak mungkin tanpa sesuatu yang tidak bergerak di dalamnya.

Sebuah roda bergerak, tetapi bagian tengah roda tetap tidak bergerak. Roda itu bergerak dari pusat roda yang tidak bergerak itu. Jika engkau hanya melihat roda, engkau hanya melihat setengahnya, dan setengah itu sangat berbahaya. Jika dalam pikiranmu, engkau membuat yang setengah itu menjadi keseluruhan, maka engkau telah jatuh ke dalam dunia konsep yang ilusi.

***

Engkau mencintai seseorang. Engkau tidak pernah melihat bahwa kebencian tersembunyi di dalam cintamu. Kebencian itu (ada) di sana, tak peduli apakah engkau suka atau tidak. Kapan pun engkau mencintai, kebencian, yang merupakan kutub yang berlawanan, juga hadir di sana, karena cinta tidak dapat ada tanpa kebencian.

Ini tidak ada hubungannya dengan apakah engkau suka atau tidak. Memang begitulah yang terjadi. Cinta tidak bisa ada tanpa kebencian. Engkau mencintai orang yang juga kau benci.

Tapi pikiran hanya bisa melihat satu sisi. Ketika pikiran melihat cinta, pikiran berhenti melihat kebencian. Ketika kebencian muncul, ketika pikiran melekat pada kebencian, ia berhenti melihat cinta.

Jika kita ingin melampaui pikiran, kita harus melihat keduanya bersama-sama–kedua titik ekstrem yang berlawanan itu. Ini seperti pendulum jam. Pendulum bergerak ke kanan, yang terlihat hanyalah pendulum bergerak ke kanan, tetapi ada sesuatu yang tidak terlihat juga. Dan itu adalah bahwa ketika pendulum bergerak ke kanan, pendulum itu mendapatkan momentum untuk bergerak ke kiri. Momentum itu tidak begitu terlihat, tetapi segera engkau akan melihatnya.

Setelah menyentuh titik ekstrem, pendulum mulai bergerak ke polaritas yang berlawanan: bergerak ke kiri, dengan ketinggian yang sama dengan ketika ia ke kanan. Sambil bergerak ke kiri, lagi-lagi kita tertipu. Kita hanya melihatnya bergerak ke kiri, tetapi jauh di dalamnya ia mengumpulkan energi untuk bergerak ke kanan.

Saat kita mencintai, kita mengumpulkan energi untuk membenci. Saat membenci, kita mengumpulkan energi untuk mencintai. Saat hidup, kita mengumpulkan energi untuk mati, dan ketika mati, kita akan mengumpulkan energi untuk dilahirkan kembali.

Jika kita hanya melihat kehidupan maka kita akan kehilangan yang sebagian. Lihatlah kematian tersembunyi di mana-mana dalam hidup! Jika kita dapat melihat bahwa kematian bersembunyi dalam kehidupan, maka kita juga dapat melihat kebalikannya: bahwa dalam kematian, tersembunyi kehidupan.

***

Saat kita melihat kedua titik ektrem ini, kedua polaritas menghilang. Ketika kita bisa melihat kedua titik ektrem bersamaan, saat itu, pikiranmu juga menghilang. Mengapa? Karena pikiran hanya bisa melihat sebagian, pikiran tidak akan pernah bisa melihat secara utuh.

Kehidupan ada dalam polaritas dan pikiran ada di salah satu bagian dari polaritas. Itu sebabnya pikiran keliru. Pikiran mencoba membuat yang sebagian menjadi keseluruhan. Pikiran berkata, “Aku mencintai pria atau wanita ini dan aku hanya mencintai. Bagaimana aku bisa membenci wanita ini? Ketika aku mencintai, aku hanya mencintai; benci itu tidak mungkin ada.”

Pikiran tampak logis tetapi itu keliru. Jika engkau mencintai, kebencian itu mungkin terjadi. Benci hanya mungkin ada jika engkau mencintai. Apa yang akan terjadi jika pikiran dapat melihat keduanya bersama-sama?

Pikiran tidak mungkin melihat keduanya, karena kemudian semuanya menjadi begitu absurd dan tidak logis. Pikiran hanya bisa hidup dalam kerangka logis yang jelas. Apa yang menjadi kebalikannya akan disangkal. Jika kita membiarkan hal-hal yang tidak logis masuk, hal itu akan menghancurkan (kerangka) pikiran sepenuhnya.

***

Ketika kita melihat absurditas hidup dari cara hidup bergerak melalui kontradiksi, cara kehidupan melalui hal-hal yang berlawanan, kita akan membuang pikiran. Pikiran membutuhkan demarkasi yang jelas dan kehidupan tidak memilikinya. Kita tidak dapat menemukan sesuatu yang lebih absurd daripada kehidupan selain keberadaan. Absurd adalah kata untuk itu jika kita melihat kedua polaritas bersama-sama.

Bagaimana bisa? Kita bertemu seseorang hanya untuk berpisah. Kita menyukai seseorang hanya untuk tidak menyukainya. Kita bahagia hanya untuk menabur benih ketidakbahagiaan. Dapatkah kita membayangkan situasi yang lebih absurd? Jika kita menginginkan kebahagiaan, kita sudah menginginkan ketidakbahagiaan. Sekarang kita akan berada dalam lingkaran penderitaan terus-menerus.

Apa yang harus dilakukan? Tidak ada yang bisa dilakukan oleh pikiran. Pikiran menghilang begitu saja. Dan ketika pikiran menghilang maka hidup tidak lagi terlihat absurd, hidup menjadi misteri.

Ini harus dipahami. Hidup terlihat absurd karena logika pikiran yang berlebihan. Hidup terlihat liar karena kita telah tinggal di taman buatan terlalu lama. Kita berpindah ke hutan yang terlihat liar. Hutan itu terlihat liar karena ada perbandingan. Begitu kita memahami bahwa hidup memang demikian, akan nampak bahwa begitulah hidup yang selalu melibatkan kebalikannya.

Cintai seseorang dan kebencian akan datang. Teman dan musuh akan lahir. Berbahagialah dan dari pintu belakang, ketidakbahagiaan masuk. Menikmati saat ini dan segera engkau akan menangis tersedu. Tertawalah, dan tepat di balik tawa itu ada air mata menunggu.

Apa yang harus dilakukan? Tidak ada yang bisa dilakukan. Terimalah, memang beginilah keadaannya. (*Penulis di Kabupaten Kutai Kartanegara)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top