Opini

Menghargai Budaya Indonesia

Oleh: Nur Syam*

Mengikuti alur berpikir Clifford Geertz, maka kebudayaan memiliki dua aspek penting, yaitu kebudayaan sebagai pattern for behavior dan pattern of behavior. Sebagai pola bagi tindakan, maka kebudayaan dijadikan sebagai pedoman dalam mengambil tindakan, sedangkan sebagai pattern of behavior, maka kebudayaan adalah apa yang dilakukan oleh individu di dalam masyarakat. Makanya, bisa terjadi perbedaan atau kesenjangan antara apa yang menjadi pedoman untuk kehidupan dan apa yang dilakukannya.

Di dalam kehidupan sosial, maka betapa banyak kesenjangan antara apa yang seharusnya menjadi pedoman dan apa yang mestinya dilakukan. Dalam bahasa yang sederhana bisa dinyatakan bahwa belum tentu norma-norma yang telah menjadi pedoman bagi kehidupan tersebut dilakukan. Ada banyak faktor yang menentukan mengapa terjadi perbedaan dimaksud, di antaranya adalah pemahaman dan lingkungan sosial yang melingkupi kehidupan individu di dalam masyarakat.

Sebagaimana diketahui bahwa norma merupakan produk kesepakatan di dalam masyarakat yang di antaranya adalah ditentukan oleh faktor agama. Kala agama dijadikan sebagai sumber norma individu atau sosial, maka agama tersebut kemudian menjadi norma yang dipahami oleh individu dan masyarakat sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan.

Misalnya ada umat Islam yang menjadikan konsep Ahlu Sunnah Wal Jamaah untuk dijadikan pedoman dalam memahami dimensi ketuhanan atau teologis, dan ada fikih yang dijadikan sebagai pedoman dalam urusan ritual dan muamalah. Dalam konteks Ahlu Sunnah Wal Jamaah, maka pedoman teologisnya adalah konsepnya Imam Al Asy’ari dan fikihnya adalah empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki dan Hanafi).

Selain itu juga terdapat pemahaman yang dijadikan sebagai pedoman dalam berteologi, ritual dan muamalah adalah aliran Salafi Wahabi. Kelompok ini beranggapan bahwa tafsir kebenaran itu harus sesuai dengan apa yang dijadikan sebagai pedoman oleh kelompoknya sendiri.

Yang sering dinyatakan adalah anggapan bahwa teologi Imam Asy’ari dan ritual dan muamalah ala mazhab empat adalah kesalahan sehingga harus dikoreksi total tanpa kecuali. Makanya dengan kerasnya kelompok ini mengafirkan dan membid’ahkan kelompok lain yang tidak sama paham keagamaannya. Ulama yang menjadi panutannya adalah Syekh Nashiruddin Albani, Syekh Abdullah bin Baz, Syekh al Utsaimin dan sebagainya.

Beberapa waktu yang lalu bahkan hingga sekarang terjadi polemik di media sosial terkait dengan wayang sebagai kebudayaan bangsa. Kelompok Wahabi menyatakan bahwa wayang itu haram, sementara itu ulama lain (baca ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah) ada yang menyatakan bahwa wayang itu budaya sehingga tidak bisa dihakimi dengan haram atau halal.

Wayang sebagai kebudayaan bangsa merupakan tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional, yang telah berlaku dalam rentang waktu yang panjang. Jika pun harus dihukumi maka bisa saja jatuh hukumnya itu mubah atau kebolehan atau sejauh-jauhnya adalah makruh dilakukan boleh dan ditinggalkan lebih baik.

Pertarungan di media sosial ini dipicu oleh pernyataan Khalid Basalamah, seorang pentolan Wahabi Indonesia yang sangat antusias, yang menyatakan wayang itu haram. Sontak terjadi reaksi dari banyak komponen masyarakat Indonesia. Ada ulama atau kiai, masyarakat dunia pedalangan, masyarakat akademis, atau masyarakat umum.

Ada yang membela paham Khalid Basalamah (kelompok Islam Syumuliyah dan Islam politik atau Islam yang menganggap bahwa kebudayaan yang benar hanya yang ada di Arab Saudi dan problem tafsir tunggal). Sementara itu juga terdapat yang kontra atas pernyataan tersebut dan melakukan serangkaian tindakan, seperti mempagelarkan wayang dengan tokoh Kholid Basalamah, dan unggahan lain di media sosial.

Sesungguhnya kita ini hidup di Indonesia dan bukan hidup di negara lain. Makanya, kita juga tidak ingin bahwa orang hidup di Indonesia lalu berkeinginan menerapkan budaya negara lain. Biarkanlah orang Indonesia hidup dengan budayanya dan orang dari negara lain hidup dengan budayanya sendiri. Bahkan sebagai negara serumpun, kita juga tidak ingin orang Indonesia menggunakan budaya Malaysia sebagai kebudayaan kita, dan sebaliknya orang Malaysia menggunakan budaya Indonesia sebagai budayanya.

Sebagai orang Islam, maka kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan orang Arab beragama Islam, apa yang ada di Arab Saudi adalah budaya Islam yang ada di Arab Saudi, dan yang di Indonesia adalah budaya Islam yang ada di Indonesia. Hal yang sangat penting bahwa budaya apa pun di Indonesia selama tidak merusak prinsip-prinsip dalam Islam, maka tentu tidak menjadi halangan bagi budaya tersebut untuk hidup di Indonesia.

Wayang pernah menjadi medium penyebaran Islam di masa lalu. Wayang adalah hasil akomodasi Sunan Kalijaga untuk dijadikan sebagai medium penyebaran Islam. Dan sejarah mencatatnya dengan baik hal-hal seperti ini. Kita tidak boleh meragukan hal ini. Di dalam inovasi wayang, maka yang dilakukan oleh Bupati Enthus Susmono, Dalang Mbeling adalah contoh bagaimana menjadikan wayang sebagai medium untuk membangun semangat keislaman. Inovasi yang luar biasa untuk mendialogkan budaya dengan Islam, dalam coraknya yang akulturatif.

Jadi, bagi orang yang menjadi warga negara Indonesia juga selayaknya menghormati budaya Indonesia, jangan memaksakan budaya lain yang memang menjadi ciri kebudayaannya. Bahkan warga negara lain yang hidup di Indonesia juga harus menghargai budaya Indonesia.

Saya teringat atas “petuah” Kiai Zawawi Imron, Penyair Celurit Emas, beliau menyatakan, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Artinya kita ini menginjakkan kaki di Indonesia, maka juga langit Indonesia yang kita junjung. Kita ini makan dan minum dari tanah dan air Indonesia, bahkan kita juga lahir dan akan mati di atas tanah Indonesia, maka sudah selayaknya kita menghormati tanah tumpah darah Indonesia. Wallahu a’lam bi al shawab. (*Guru Besar UIN Sunan Ampel, Surabaya)

Sumber: Artikel nusantarainstitute.com berjudul Menghargai Budaya Indonesia

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top