Samarinda

Lulusan Pondok Pesantren Berprestasi di Fakultas Kesmas Unmul Samarinda

BERITAALTERNATIF.COM – Meski bergelut serta terbiasa dengan beragam pelajaran ilmu agama, tak sedikit lulusan pondok pesantren di Indonesia yang kemudian mengambil jurusan ilmu sosial dan alam berprestasi di perguruan tinggi.

Salah satunya Sayid Muhammad Taqie Assegaff. Lulusan salah satu pondok pesantren di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini berhasil meraih indeks prestasi kumulatif 3,95 selama menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.

Mahasiswa angkatan tahun 2020 ini mendapatkan indeks prestasi pada semester satu 3,96. Dari seluruh mata kuliah, hanya satu mata kuliah yang bernilai B. Selebihnya ia mendapatkan nilai A.

Pada semester dua, ia meraih indeks prestasi semester 4,0. Semester berikutnya, Sayid Taqie kembali meraih indeks prestasi 4,0.

“Terus semester empat ada dua mata kuliah yang dapat B. Indeks prestasinya 3,86. Hitungannya kaget. Dari online langsung full ke offline. Terus kita banyak turun ke lapangan, kayak ke dinas kesehatan dan Puskesmas. Awalnya kita sering di hadapan kamera, terus tiba-tiba ketemu orang, itu pasti kaget,” katanya baru-baru ini kepada beritaalternatif.com di Tenggarong.

Selama bertahun-tahun belajar di pondok pesantren, Sayid Taqie mengaku bahwa pembelajaran di pesantren tidak jauh berbeda dengan sekolah umum.

“Pondok itu kayak SMA plus. Kalau di sini, kayak SMA IT. Belajar agama itu dari jam 07.00 sampai jam 09.00. Sisanya kayak SMA biasa dengan porsi yang sama: ada kelas IPA dan IPS,” terangnya.

Di pondok pesantren, ia juga mempelajari ilmu-ilmu pasti seperti biologi, kimia, fisika, dan matematika. “Terus ada OSIS juga. Kayak SMA biasa. Enggak sepenuhnya kayak pondok pesantren pada umumnya,” jelas dia.

Setelah lulus dari pondok pesantren, Sayid Taqie juga mendapatkan ijazah layaknya lulusan SMA pada umumnya. Hal ini berbeda dengan sebagian pondok pesantren yang tidak memberikan ijazah resmi dari pemerintah kepada para santri.

Sebagian lulusan pondok pesantren harus mengambil Paket C untuk mendapatkan ijazah yang setara dengan SMA/SMK. “Sedangkan di pondok saya itu ada ijazah SMA-nya, karena dia terdaftar di Kemendikbud-Ristek sebagai SMA swasta,” urainya.

Karena itu, setelah memasuki perguruan tinggi, Sayid Taqie mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam menerima mata kuliah yang berhubungan dengan ilmu eksak seperti matematika dan biologi.

Di Fakultas Kesmas Unmul Samarinda, ia mempelajari ilmu sosial dan eksak. Sebagai fakultas yang menggabungkan dua pendekatan keilmuan, di fakultas tersebut Sayid Taqie juga mempelajari ilmu sosial dan eksak.

“Kesmas itu belajar kedua-duanya. Dari nama fakultas dan program studinya saja kesehatan masyarakat. Ada dua kosakata bahwa dia itu menunjukkan dua-duanya,” jelas Sayid Taqie.

“Kesehatan itu menunjukkan bahwa dia eksak. IPA banget. Karena dia dengan teori-teori medis dan pengobatan-pengobatan yang jelas dan argumentasi yang jelas. Kemudian di situ ada kata masyarakatnya. Bentuknya dinamis. Berubah-ubah. Dan itu enggak pasti. Yang jelas dia pakai teori-teori sosial,” sambungnya.

Kata dia, pendidikan di Indonesia masih terbiasa memisahkan antara ilmu sosial dan eksak. Sehingga terdapat pengotakan antara IPA dan IPS. Padahal keduanya saling berkaitan bahkan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Menurut Sayid Taqie, setiap ilmu pengetahuan, baik ilmu sosial maupun eksak, saling berhubungan satu sama lain. “Enggak bisa dipisahkan,” katanya.

Ia mencontohkan di Fakultas Kesmas Unmul Samarinda. Teori-teori yang dipelajari merujuk pada ilmu kesehatan. Namun dalam praktiknya, masyarakat harus didekati dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial dan agama.

“Tapi harus tetap pakai teori medis. Pendekatannya harus kita cari. Masyarakat itu kan dinamis. Misalnya kita kasih tahu tentang vaksin. Kadang kan ada yang enggak percaya. Jadi, itu enggak bisa kita paksakan pakai ilmu medis, tapi juga butuh ilmu psikologi,” terangnya. (um)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top