Samarinda

Pasca Pandemi Covid-19, Prospek Jurusan Kesmas di Indonesia Kian Strategis

BERITAALTERNATIF.COM – Sayid Muhammad Taqie Assegaff memulai pendidikan tinggi di Univeritas Mulawarman (Unmul) Samarinda pada tahun 2020, bertepatan dengan pandemi Covid-19. Karena itu, selama pandemi melanda Indonesia, ia melakoni perkuliahan dengan sistem daring dari semester satu hingga semester tiga.

Kemudian, memasuki semester empat, setelah jumlah pasien yang terjangkit virus corona di Kalimantan Timur kian turun, pihak kampus mulai mengadakan perkuliahan dengan sistem daring dan hybrid.

“Sekarang sudah full kuliah tatap muka,” ungkap Sayid Taqie kepada beritaalternatif.com di Kota Tenggarong pada Sabtu (17/9/2022) sore.

Dia mengaku saat ini sedang menempuh perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Unmul Samarinda. Fakultas tersebut, sambung dia, bukanlah pilihan utamanya.

Sebelumnya, ia ingin melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan kedokteran. Pasalnya, Sayid Taqie mengaku memiliki dasar keilmuan dalam ilmu pengetahuan alam dan medis.

“Cuman pas ngelihat prospeknya, terus ngelihat chance-nya, kan kedokteran itu identik dengan mahalnya, selain memang butuh nilai yang tinggi, juga faktor pendukung-pendukung lainnya, jadi milihlah Kesmas sebagai pilihan keduanya,” urai dia.

Saat ini, setelah melakoni perkuliahan, dia menyebutkan bahwa banyak hal yang tidak diajarkan di jurusan kedokteran, tetapi didalami di jurusan tersebut. Kesmas juga memiliki prospek yang bagus di Indonesia.

Jurusan ini tergolong baru, sehingga banyak orang yang kurang meminatinya. Di bidang kesehatan, orang-orang pada umumnya lebih tertarik dengan jurusan kedokteran, bahkan jurusan ini dianggap sebagai poros utama di bidang medis.

Padahal, menurut Sayid Taqie, dari sudut pandang yang lebih luas, profesi dokter justru berada dalam struktur paling bawah dalam sistem medis. Sebab, dokter langsung berhubungan dengan pasien. “Ibaratnya, dia pekerjanya,” jelas dia.

Di bidang medis, terdapat berbagai profesi yang terlibat di dalamnya, seperti bagian manajemen, pembuat aturan, keuangan, dan sebagainya.

“Itu semua bukan dokternya, karena dokter itu yang didatangi langsung oleh pasien,” terangnya.

Kata dia, masyarakat pada umumnya melihat profesi dokter sebagai profesi yang sangat bagus untuk masa depan, sehingga mereka memandang “remeh” profesi-profesi di bidang medis lainnya.

Setelah pandemi Covid-19, pemerintah dan masyarakat Indonesia kian menyadari pentingnya Jurusan Kesmas. Sebab, saat ini yang dibutuhkan tidak hanya orang-orang yang bisa mengobati pasien, tapi juga yang dapat mencegah serta memikirkan aturan-aturan untuk kesehatan.

“Kita juga butuh orang yang bisa melihat arah penyebaran penyakit. Kan itu butuh epidemiolog, gizi, dan lain sebagainya. Dan itu enggak ada di kedokteran. Karena dokter itu kalau di bidang kesehatan dia fokusnya ke pengobatan dan rehabilitasi,” jelasnya.

Sementara itu, Jurusan Kesmas memiliki konsen di bidang pencegahan penyakit, promosi dan edukasi kesehatan. Bidang-bidang tersebut, kata Sayid Taqie, belum disentuh bahkan kerap diabaikan di Indonesia.

Padahal, sambung dia, di negara-negara maju, Jurusan Kesmas sudah lama memiliki posisi strategis. Hal ini merujuk pada semboyan cegahlah sebelum sakit.

“Pencegahan penyakit di Indonesia tergolong minim. Kalau sakit, baru ke dokter. Bukan pada hidup sehatnya. Kayak pakai masker itu kan baru di Indonesia, karena sebelumnya enggak ada yang ngatur itu,” katanya. (um)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top