Kutai Kartanegara

Awang Yacoub Dorong Pemerintah Buat Patung Sultan Aji Muhammad Idris

Kukar, beritaalternatif.com – Penetapan Sultan Aji Muhammad Idris oleh Presiden Joko Widodo sebagai Pahlawan Nasional beberapa hari yang lalu tidak hanya membuat bangga Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar), tetapi rasa bangga juga diungkapkan oleh keluarga besar Kedaton Kesultanan Kukar.

Awang Yacoub Luthman pada acara “Kaseh Selamat” di Kedaton Kesultanan mengucapkan rasa syukurnya di hadapan awak media atas penetapan Sultan Aji Muhammad Idris sebagai Pahlawan Nasional, Sabtu (13/11/2021) sore.

“Kami mewakili kerabat serta anak cucu beliau mengucapkan terima kasih kepada Presiden. Kemarin telah disampaikan bahwa Sultan Aji Muhammad Idris, tahun 2021 alhamdulillah menjadi bagian dari empat Pahlawan Nasional yang dikukuhkan oleh negara,” ucapnya.

Awang Yacoub menuturkan, Sultan Aji Muhammad Idris melakukan perjuangan dengan menunjukkan spirit kepahlawanan sejatinya tak mengharapkan apa pun. Ia berjuang tanpa pamrih.

Kata dia, penetapan Sultan Aji Muhammad Idris sebagai Pahlawan Nasional menjadi satu apresiasi tersendiri bagi Provinsi Kaltim. Hal ini dinilainya dapat mendorong semangat pembangunan di Bumi Etam, khususnya di Tanah Kutai.

“Kita sebagai anak cucunya melihat perjuangan itu sangat berharga, terutama nilai kepahlawanan dalam rangka pembangunan, terutama mengentaskan kemiskinan dan kebodohan,” sebutnya.

Simbol perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris di Kukar masih sangat minim. Karena itu, mewakili Sultan Aji Muhammad Arifin, Awang Yacoub berharap agar patung Pahlawan Nasional tersebut segera dibangun.

“Mudah-mudahan dengan kepentingan simbol patung, ini menjadi bukti spirit baru ke depan, bahwa ada pejuang dari Tanah Kutai yang betul-betul berjuang bukan hanya untuk kepentingan daerahnya, tapi juga pada kepentingan daerah lain,” tuturnya.

Awang Yacoub juga menceritakan, saat meninggalkan anak dan istrinya, Sultan Aji Muhammad Idris berangkat ke Kabupaten Wajo hingga meninggal di sana. Langkah ini tidak hanya bertujuan mendatangi mertuanya, La Maddukelleng, lalu membawakan oleh-oleh, tetapi ia berangkat membawa harta yang dijadikan modal untuk membeli senjata. Itulah yang menunjukkan bahwa Sultan Aji Muhammad Idris memang berniat untuk berperang melawan VOC.

“Memang literasi yang berkaitan dengan sejarah Sultan Aji Muhammad Idris sangat kurang sekali di Kaltim, tetapi semua proses penulisan yang ada di Sulawesi Selatan, khususnya di Tanah Wajo setiap menyambut La Maddukelleng selalu ada penegasan tentang peran Sultan Aji Muhammad Idris sebagai seorang pejuang di sana,” jelasnya.

“Insyaallah kami dan pemerintah dalam waktu dekat akan bertakziah ke kuburan beliau sekaligus mungkin melakukan rehabilitasi untuk memperkuat eksistensi makam beliau di sana,” pungkasnya. (ar)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top