Kutai Kartanegara

Tantangan Pemda Kukar dalam Membangun Tenggarong sebagai Pusat Distribusi (1)

beritaalternatif.com – Pengamat ekonomi dan politik Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Haidir menyebutkan bahwa Kecamatan Tenggarong dapat mengembangkan sektor distribusi.

Kata dia, sektor distribusi dapat dikembangkan bila wilayah tersebut menjadi penghubung bagi wilayah-wilayah di sekitarnya. Tenggarong memenuhi syarat tersebut. Pasalnya, kecamatan ini menjadi penghubung bagi wilayah-wilayah lain di Kukar dan Kaltim.

“Tenggarong bisa menghubungkan jalur ke Hulu Mahakam, terutama kecamatan-kecamatan yang ada di Hulu Mahakam. Tenggarong juga bisa menghubungkan beberapa wilayah, misalnya Bulungan, Samarinda, Balikpapan, dan beberapa daerah-daerah lainnya,” jelas Haidir baru-baru ini kepada beritaalternatif.com.

Pemerintah daerah, lanjut dia, memiliki tugas dalam menyiapkan, memperbaiki, dan membangun infrastruktur jalan untuk mendukung pengembangan sektor distribusi. Jalan provinsi dan pusat hingga daerah mesti ditata dengan baik.

Kemudian, pemerintah juga bertugas menyiapkan infrastruktur darat, sungai, serta udara berupa moda transportasi untuk mendukung pengembangan sektor distribusi.

Bila dua infrastruktur tersebut sudah tersedia, maka Tenggarong juga dapat mengembangkan industri hilir dari sejumlah komoditas, salah satunya kelapa, yang dapat diolah menjadi minyak makan dan sabun.

Hasil dari industri hilir tersebut dapat didistribusikan ke sejumlah kecamatan dan daerah yang berdekatan dengan Tenggarong. Produk hilir kelapa dan kelapa sawit bisa saja didapatkan dari Samarinda, tetapi jaraknya relatif jauh dibandingkan di Tenggarong.  

“Jarak itu biasanya menimbulkan cost tambahan. Kalau misalnya bawa 1 ton minyak goreng dari Samarinda, tentu ada biaya transportasi yang ditanggung. Ketika sudah masuk di Tenggarong, Tenggarong tinggal memenuhi kebutuhan dalam daerahnya dan mendistribusikannya ke beberapa daerah yang ada di pedalaman,” jelasnya.

Tenggarong juga bisa menjadi pusat perbelanjaan. Jika ada seseorang yang singgah di Tenggarong, maka ia akan membutuhkan makanan, bahan bakar, dan produk-produk lokal.

Daerah transit, kata Haidir, mempunyai keunggulan tersendiri. Ia mencontohkan Singapura yang tidak memiliki banyak komoditas. Namun, sebagai negara yang menjadi pusat transit, sebagian besar pedagang singgah di negara tersebut. Sehingga penjualan dan pembelian di Singapura relatif tinggi.

“Padahal bisa saja barang itu bersumber dari Batam, China, dan Malaysia. Tapi karena dia daerah transit, ia mengambil manfaat dengan memanfaatkan selisih keuntungan antara yang menjual dan membeli. Jadi, ada pemasukan-pemasukan di situ,” terangnya.

Tenggarong pun demikian. Sejak dulu, Tenggarong sudah menjadi sentral distribusi barang. Para pedagang di Hulu Mahakam pada umumnya membeli barang di Tenggarong. Kemudian menjualnya kembali di daerah mereka masing-masing.

“Tenggarong dapat selisih dari situ. Sudah lama sebenarnya. Tapi selama ini, ketika Tenggarong tidak lagi fokus menyiapkan bahan-bahan distribusi itu, akhirnya orang beralih ke Samarinda, Balikpapan, dan sebagainya,” sebut Haidir.

Dia mengatakan, pemerintah daerah dapat mendorong para pengusaha dalam menyiapkan barang-barang di Tenggarong untuk didistribusikan ke daerah-daerah di sekitarnya.

Tantangan lain, Tenggarong juga tak memiliki pengusaha yang fokus menyiapkan kendaraan yang dapat digunakan untuk mendistribusikan barang-barang ke sejumlah daerah di Kaltim.

“Harus ada yang berani investasi di situ. Khususnya pengusaha yang memang berani mengurusi urusan transportasi. Ia bisa menciptakan moda angkutan untuk jalan darat, sungai, dan sebagainya,” saran Haidir.

Saat ini, kata dia, para pengusaha perlahan meninggalkan moda transportasi sungai. Padahal, sejumlah bahan bangunan, mebel, dan elektronik dapat diangkut lewat Sungai Mahakam.

Karena itu, barang-barang tersebut pun terpaksa dipesan oleh orang-orang dari Hulu Mahakam ke Samarinda dan Balikpapan. Padahal, bila infrastruktur transportasi tersedia, mereka yang berusaha di Hulu Mahakam dapat memesannya di Tenggarong. “Di Tenggarong bisa lebih murah. Risiko angkutannya juga lebih rendah. Karena jaraknya lebih dekat,” katanya.

Haidir mengatakan, “daerah transit” dapat membawa multiplier effect bagi perekonomian. Para pengusaha dan masyarakat akan mendapatkan “manfaat melimpah” bila pemerintah fokus dalam mengembangkan Tenggarong sebagai pusat distribusi.

Ia mencontohkan tas Furla yang dijual di Singapura. Produk yang berasal dari Prancis itu dijual di Kota Batam sekitar Rp 3 juta. Sementara di Singapura dibanderol dengan harga Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta.

“Karena apa? Mereka mengambil selisih dari harga asalnya. Mereka akan beli barang dari Batam. Kemudian dijual di mal-mal Singapura dengan harga yang lebih mahal,” bebernya.

“Apakah orang akan cenderung membelinya di Batam atau Singapura? Orang akan cenderung beli di Singapura. Karena apa? Karena dianggap gengsi belanja di Singapura,” lanjutnya.

Meski harga tas Furla di Singapura lebih mahal dibandingkan di Batam, orang-orang akan lebih bangga membelinya di Singapura. Pasalnya, negara tersebut dianggap sebagai pusat bagi barang-barang orisinal.

Citra demikian bisa dibangun di Tenggarong. Bila orang-orang ingin membeli barang tertentu, maka Tenggarong bisa menjadi pusat distribusi dan penjualan.

Namun, saat ini citra tersebut belum terbangun. Orang-orang cenderung membeli barang-barang dari Kota Samarinda. Meskipun harga barang tertentu di Tenggarong relatif murah dibandingkan di Samarinda, para pembeli lebih senang membelinya di Kota Tepian. “Karena orang menganggapnya lebih orisinal dan bergengsi beli di Samarinda,” katanya.

Haidir menyebutkan bahwa Tenggarong dapat menjadi kota yang menjadi pusat distribusi bagi daerah-daerah di sekitarnya bila pemerintah daerah dapat membangun brand image.

Kata dia, usaha menjadikan Tenggarong sebagai pusat distribusi dapat dimulai dengan membangun perencanaan yang baik dan matang.

Kemudian, pemerintah daerah juga dituntut memberikan ruang yang kondusif bagi para investor agar mereka mau berinvestasi di Tenggarong. Langkah awalnya, pemerintah dapat mempromosikan Tenggarong sebagai rumah yang kondusif bagi para investor.

Promosi juga dapat dilakukan dengan mencitrakan Tenggarong sebagai kota wisata dan pusat distribusi produk-produk orisinal.

“Ini butuh kerja keras dari pemerintah daerah dan kecamatan bagaimana membuat program itu sehingga image Tenggarong sebagai pusat distribusi itu maksimal,” sarannya.

Meskipun buah dan barang didatangkan dari Jawa, setelah berada di Tenggarong, para pedagang dapat mengemasnya dengan brand Tenggarong. Langkah seperti ini pun diambil oleh Singapura. Padahal, di negara tersebut tak ada lahan yang memadai untuk menanam dan menghasilkan buah-buahan.

“Tapi ketika beli buah di Singapura, dianggap sebagai buah yang punya nilai prestisius tinggi. Karena apa? Dia membuat brand sendiri. Ini yang harus dilakukan di Tenggarong,” imbuhnya. (*)

 Penulis: Ufqil Mubin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top