Kutai Kartanegara

Menengok dan Mengurai Potensi Budi Daya Bibit Ikan Air Tawar di Desa Ponoragan

Kukar, beritaalternatif.com – Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dikenal luas sebagai desa yang memiliki penduduk yang mayoritas mengembangkan pembibitan ikan air tawar.

Jauh sebelum itu, warga desa tersebut berprofesi sebagai petani yang menanam tanaman pangan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka secara perlahan beralih mengembangkan bibit ikan air tawar, yang meliputi ikan mas, nila, patin, dan lele.

Mereka membudidayakan bibit ikan air tawar di lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian tanaman pangan, yang kemudian disulap menjadi kolam-kolam ikan air tawar. Ada pula warga yang mengembangkannya dengan sistem bioflok.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Tambak Rejo, Teguh Joko Imam Santoso menguraikan, warga yang sebelumnya menanam tanaman pangan acap menghadapi gangguan seperti keong mas dan banjir, sehingga mereka memilih menggunakan lahan untuk pembibitan ikan air tawar.

Kata dia, pembibitan ikan air tawar juga lebih cocok untuk lahan di RT 2 hingga RT 4 Desa Ponoragan. Setiap orang bisa meraup keuntungan jutaan rupiah per bulan. Dalam setahun, mereka bisa memanen bibit ikan sebanyak 10 kali. Sementara di bidang pertanian tanaman pangan, warga hanya bisa menanamnya dua kali dalam setahun.

Joko mengurai, dalam satu hektare lahan, warga bisa membaginya menjadi enam tambak. Dengan lahan seluas itu, setiap bulan petani bisa menghasilkan 75 ribu ekor bibit ikan mas. “Harga jualnya Rp 200 per ekor,” ungkap Joko kepada beritaalternatif.com saat ditemui di rumahnya yang berlokasi RT 2, Desa Ponoragan, Jumat (28/1/2022) pagi.

Induk Ikan

Joko mengatakan, bibit ikan air tawar dari Ponoragan dijual ke berbagai daerah di Kaltim, seperti Kukar, Kutai Timur, Berau, hingga Kutai Barat. Meski telah dikenal luas sebagai pusat bibit ikan air tawar di Bumi Etam, para pembudidaya menghadapi sejumlah masalah pelik, antara lain akses jalan, irigasi, dan induk ikan mas, nila, dan lele.

Masalah induk, jelas dia, menjadi problem mendasar yang dihadapi para pembudidaya ikan air tawar di Ponoragan. Hal ini berimbas terhadap produktivitas dan penjualan ikan ke berbagai daerah di Kaltim.

Setiap kali mereka mengirim bibit ikan ke Kutai Timur dan Kutai Barat, pembeli acap menanyakan asal usul benih dan induk ikan. Kata Joko, hanya satu atau dua orang pembudidaya ikan di Ponoragan yang memiliki induk ikan yang berkualitas dan bersertifikat.

Umumnya, mereka menggunakan induk yang berasal dari desa-desa di Kecamatan Loa Kulu. Induk lokal memiliki potensi kawin sedarah, yang kemudian dapat berimbas terhadap produktivitas bibit yang dihasilkannya.

“Ini yang kami rasakan. Mewakili dari pembudidaya ataupun pelaku usaha di Ponoragan, ini keluhan-keluhan yang kami rasakan,” bebernya.

Sejauh ini, Joko beserta perwakilan kelompok pembudidaya bibit ikan air tawar di Ponoragan telah menyampaikan keluhan mereka ke Pemkab Kukar dan Pemprov Kaltim.

Keluhan itu telah disampaikan beberapa tahun yang lalu. Namun, belum ada satu pun tindak lanjut atas aspirasi warga Ponoragan. Para pembudidaya ikan sejatinya hanya berharap pemerintah daerah menyiapkan induk ikan yang berkualitas dan bersertifikasi.

Meski begitu, warga tak berdiam diri. Mereka mencari penyedia induk ikan yang terjamin kualitasnya, seperti dari Pulau Jawa. Hanya saja, mereka tak memiliki akses dan kenalan untuk menyuplai induk ikan tersebut. Jika pun ada, harganya dinilai terlalu mahal.

Joko mengusulkan agar Dinas Kelautan dan Perikanan Kukar memaksimalkan peran dan fungsi Balai Benih Ikan (BBI) di Perjiwa dan Sebulu untuk mengembangkan dan menyediakan induk ikan air tawar.

“Sebenarnya itu yang kita harapkan supaya bisa membuat calon induk. Selama ini memang tidak ada di situ. Adanya hanya induk patin,” jelas Joko.

Ia menegaskan, keberadaan induk ikan yang unggul dan bersertifikat bisa menjadi dasar bagi para pembudidaya ikan air tawar di Ponoragan untuk memperluas pasar.

Selama ini, kata Joko, warga masih menggunakan induk lokal. Kekurangannya, setelah dua hingga tiga kali induk digunakan, maka jumlah bibit ikan yang dihasilkan akan terus menurun.

Ia mencontohkan induk ikan mas. Pada pembibitan awal, 1 kilogram ikan mas bisa menghasilkan 70 ribu hingga 100 ribu ekor bibit. Pada pembibitan berikutnya, bibit yang dihasilkan turun 20-25 persen.

Efek Pencemaran

Penurunan produktivitas bibit ikan yang dihasilkan induk, kata Joko, tak hanya dipengaruhi kualitas induk. Tetapi “lahan yang kian menua”, pencemaran lingkungan karena aktivitas penambangan batu bara di desa sekitar Ponoragan, dan pencemaran air Sungai Mahakam. “Akhirnya, hasilnya kan menurun terus,” ungkapnya.

Pada tahun 1990, beber dia, sebelum air Sungai Mahakam tercemar berbagai logam berat yang berbahaya untuk pembudidayaan bibit ikan, produktivitas induk dalam menghasilkan bibit relatif tinggi. Bibit ikan yang dihasilkan bisa hidup hingga 70 persen. Sementara saat ini, hanya 40 persen bibit yang hidup pasca pelepasan benih.

Saat ini, setiap tahun Ponoragan menghasilkan bibit ikan air tawar yang mencapai 16 miliar hingga 17 miliar ekor per tahun. Jauh lebih rendah dibandingkan di awal-awal pengembangan bibit ikan air tawar di desa tersebut.

Pemasaran dan Penjualan

Joko menjelaskan, pemasaran bibit ikan air tawar dari Ponoragan kian membaik pasca pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Kala pandemi menyerang Kukar, harga bibit ikan turun drastis. Namun saat ini, dari hari ke hari harganya terus meningkat. “Penjualannya sudah mulai ramai. Permasalahan sudah enggak ada lagi,” bebernya.

Penjualan bibit ikan dari Ponorogan umumnya dilakukan secara langsung antara pembeli dan pembudidaya bibit ikan. Namun, tak sedikit pula tengkulak yang membeli bibit dari desa tersebut, kemudian menjualnya ke daerah lain di Kaltim.

Penyebaran informasi dari “mulut ke mulut” membuat Ponoragan dikenal luas sebagai penyedia bibit ikan air tawar. Hal ini diakui pula oleh pemerintah daerah dari berbagai kabupaten/kota di Kaltim. Informasi yang tersebar dari lisan ke lisan itu kemudian meluas hingga ke berbagai pelosok Kaltim.

Selain itu, pembudidaya bibit ikan memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk memasarkan bibit ikan. Namun, pemasaran di platform digital seperti ini masih dilakukan secara individual serta tak terkoordinasi oleh kelompok maupun pemerintah.

Joko telah mengusulkan agar pemerintah dapat membentuk pasar benih yang menjadi pintu penjualan benih ikan air tawar di Ponoragan. Pembentukan satu pintu penjualan bibit ikan dapat memudahkan mereka mengontrol harga dan ukuran bibit ikan yang dijual ke berbagai daerah.

Pasalnya, tak sedikit orang dari luar Ponoragan menjual bibit ikan yang mengatasnamakan desa tersebut. Bila bibit ikan yang dijual berkualitas buruk, maka hal itu akan merugikan pembudidaya ikan dari Ponoragan.

Untuk menanggulangi hal ini, Joko telah mengusulkan kepada Kepala Desa Ponorogan, Sarmin, untuk membangun pasar benih ikan air tawar. Pasar itu bisa dijadikan wadah bagi para pembudidaya untuk menjual bibit ikan kepada para pelanggan.

“Agar bisa dijadikan satu pintu. Kita bisa mengontrol masalah harga, ukuran, hitungan, juga kualitas bibit itu sendiri. Jadi, lambat laun kita bisa menaikkan harga bibit,” jelasnya.

Perputaran Uang Tinggi

Ponoragan yang sudah dikenal luas sebagai desa yang menghasilkan bibit ikan air tawar membawa berkah tersendiri bagi masyarakat setempat. Setiap orang bisa meraup jutaan rupiah per bulan dari hasil pembibitan ikan air tawar.

Setiap bulan, satu hektare lahan dapat menghasilkan bibit sebanyak 75 ribu bibit ikan. Modal pembibitan yang dibutuhkan dalam setiap ekor adalah Rp 25. Artinya, setiap hektare lahan memerlukan modal pembibitan Rp 1.875.000.

Modal tersebut belum termasuk pakan. Setiap bulan, pembudidaya menghabiskan 3 sak pakan. Harga pakan per sak adalah Rp 520 ribu. Sehingga dibutuhkan modal Rp 1.560.000 untuk pakan ikan. Karena itu, setiap hektare lahan yang digunakan untuk budi daya bibit membutuhkan modal Rp 3.435.000.

Pembudidaya menjual bibit ikan air tawar dengan harga Rp 200 per ekor. Dengan begitu, dalam satu hektare lahan, petani menghasilkan omzet Rp 15 juta. Bila dihitung dengan tenaga kerja dan biaya lainnya, maka pembudidaya bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp 10 juta per bulan.

Karena itu, Joko mengungkapkan, perputaran uang setiap hari di Ponoragan dari budi daya bibit ikan air tawar mencapai puluhan juta. Ia menilai hal ini merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan Pemerintah Desa (Pemdes) Ponoragan untuk meraup Pendapatan Asli Desa (PADes).

Dia pun menyarankan Pemdes Ponoragan membangun pasar benih yang dapat mengoordinasi seluruh penjualan bibit ikan di desa tersebut. Dengan cara ini, Pemdes dapat memungut biaya dari setiap petani yang menjual bibit ikan di pasar benih.

“Uang itu akhirnya kan kembali ke masyarakat juga. Kan seperti itu. Selama ini belum ada terpikir seperti itu karena menyatukan masyarakat ini susah,” sesalnya.

Saran untuk Pemkab

Joko berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar menyediakan induk ikan air tawar yang berkualitas dan bersertifikat. Induk yang terjamin kualitasnya dapat dimanfaatkan pembudidaya ikan di Ponoragan untuk memperluas pasar.

Kemudian, Pemkab juga diharapkan dapat membangun irigasi permanen. Pasalnya, pembudidaya ikan di Ponoragan yang masih memanfaatkan air dari Sungai Mahakam sewaktu-waktu menghadapi pasang surut air sungai.

“Jadi, waktu banjir, kebanjiran. Kalau kering, kami menghadapi kekeringan. Apalagi saat ini kami belum bisa menampung air,” jelasnya.

Saat banjir dan kekeringan, pembudidaya ikan pun tak bisa menjalankan usahanya. Kala air Mahakam surut, warga setempat tak bisa mendapatkan air untuk mengaliri tambak-tambak mereka. Sebaliknya, saat terjadi banjir karena air sungai pasang, mereka harus menghadapi banjir yang menggenangi kolam-kolam ikan.

Kondisi seperti ini sejatinya tergolong jarang dihadapi masyarakat Ponoragan. Namun, ancaman kekeringan dan kebanjiran tetap berpotensi “menyerang” Ponoragan. Beberapa tahun yang lalu, terjadi banjir besar di desa tersebut, sehingga setiap warga mengalami kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

Joko mengungkapkan, musim kemarau atau saat air Sungai Mahakam surut, warga mengakalinya dengan menggelar pipa yang panjang untuk mengalirkan air dari sungai tersebut ke tambak-tambak milik warga.

Ancaman banjir dan kekeringan sejatinya bisa ditanggulangi dengan asuransi yang dapat ditanggung pemerintah sehingga warga terhindar dari kerugian. Namun, hanya sebagian kecil pembudidaya ikan dari Ponoragan yang mendapatkan asuransi tersebut.

Selain harapan itu, pembudidaya bibit ikan juga berharap bantuan dari pemerintah. Bantuan pakan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kukar juga diperlukan oleh pembudidaya ikan di Ponorogan. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan modal yang dikeluarkan warga sehingga keuntungan yang didapatkan bisa lebih besar.

Dia juga menyebutkan, selain budi daya bibit ikan di tambak, warga Ponoragan pun mengembangkannya melalui metode bioflok atau kolam terpal. Hanya saja, mereka belum bisa mengolah air yang berkualitas untuk membudidayakan ikan dengan metode tersebut.

“Di Ponoragan ini sudah ada bantuan kolam terpal. Tapi digunakan hanya sebatas begitu saja. Harusnya bisa dikembangkan sehingga hasilnya lebih maksimal. Selama ini belum maksimal karena ilmu kita enggak ada. Perlu pelatihan-pelatihan kolam terpal,” pungkas Joko. (ln)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top