Kutai Kartanegara

Komunitas Teater Ngayau Gandeng Deddy Mizwar, Tatang: Kesempatan Emas bagi Masyarakat Kukar

Kukar, beritaalternatif.com – Kerja sama yang terbangun antara Demiz Academy dan Komunitas Teater Ngayau dalam pendidikan dan pelatihan calon artis di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) merupakan kesempatan emas bagi masyarakat Kukar untuk mengembangkan diri dalam bidang seni pertunjukan dan perfilman.

Komunitas Teater Ngayau diberikan kepercayaan menjembatani 30 orang peserta dari Kukar untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan yang akan dilaksanakan di Studio Demiz Academy, sebuah lembaga yang didirikan oleh artis ternama Indonesia, Deddy Mizwar.

Pendidikan dan pelatihan tersebut akan dilaksanakan selama 12 hari di Studio Demiz Academy, yang berlokasi di Kalibata, Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Pelatihan akan dimulai pada 21 Maret 2022.

Sejauh ini, antusiasme calon peserta sangat tinggi untuk mengikuti pelatihan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan anak-anak hingga dewasa yang berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai peserta di Studio Komunitas Teater Ngayau yang berlokasi di Jalan Salehuddin, RT 4, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang.

Ketua Dewan Pembina Komunitas Teater Ngayau, Dr. Tatang Apendi mengatakan, ikhtiar pengurus dan pendiri komunitas tersebut dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Kukar untuk mengikuti pelatihan di Demiz Academy patut mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Pelatihan ini bertepatan dengan momentum persiapan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke sebagian wilayah Kukar dan Penajam Paser Utara (PPU). Saat IKN dipindah ke wilayah tersebut, masyarakat Kukar tak hanya menjadi penonton yang pasif di bidang seni pertunjukan dan perfilman.

Masyarakat Kukar, sambung dia, mesti menjadi bagian penting dalam proses pemindahan dan perjalanan IKN Nusantara. Karena itu, Tatang menilai pelatihan yang menggandeng Deddy Mizwar tersebut tak boleh dilewatkan begitu saja oleh masyarakat Kukar.

Ia pun mengapresiasi para penggagas dan pendiri Komunitas Teater Ngayau yang berhasil membangun kerja sama dengan artis ternama di Tanah Air tersebut. “Apresiasi saya terutama untuk Kung, Agus, dan tim lain,” ucapnya kepada beritaalternatif.com di Tenggarong, Minggu (6/3/2022) siang.

Ikhtiar para penggagas dan pendiri Komunitas Teater Ngayau tersebut, lanjut Tatang, merupakan langkah maju dalam membangun kebudayaan, kesenian, pertunjukan, perfilman di Kukar.

“Buanglah persepsi negatif. Pikiran negatif bahwa kita tidak bisa. Dalam makna lain, kalau kita mau, kita pasti bisa,” ucapnya.

Dalam rangka membangun dan mengembangkan komunitas tersebut, dia mendorong berbagai pihak memberikan dukungan moril.

“Ini butuh dukungan-dukungan secara langsung dari tokoh-tokoh Kukar. Mereka mestinya merestui langkah ini secara moral. Perlu juga dukungan dari berbagai stakeholders di Kukar,” katanya.

Tatang juga mengajak pemerintah daerah mendukung pengembangan komunitas-komunitas yang bergerak di bidang seni pertunjukan dan perfilman seperti Komunitas Teater Ngayau. Dukungan dapat dilakukan lewat regulasi untuk mendukung kemajuan sejumlah komunitas tersebut.

Dukungan lewat regulasi, saran dia, dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dengan membuat aturan yang menekankan agar lulusan pelatihan yang diadakan komunitas seni pertunjukan dan perfilman di Kukar mendapatkan insentif.

Tatang mengatakan, insentif tersebut diharapkan dapat mendorong warga Kukar yang memiliki kualifikasi di bidang seni pertunjukan dan perfilman mengembangkan kemampuan mereka.

Kata dia, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi seni dan budaya perlu mendukung gagasan ini demi mengembangkan komunitas-komunitas di Kukar. “Dukungan seperti ini sangat mungkin dilakukan pemerintah daerah,” ucapnya.

Kerja sama dalam membangun komunitas-komunitas seni pertunjukan dan perfilman di Kukar, lanjut Tatang, tak hanya dilakukan antara pemerintah daerah dan para penggerak komunitas, tetapi juga bisa melibatkan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kukar.

“Perusahaan-perusahaan swasta nasional itu juga perlu memberikan support. Karena ini kan hak daripada masyarakat mendapatkan dukungan dari mereka untuk berkiprah di dunia hiburan nasional hingga internasional,” tegasnya.

Sejatinya, perusahaan dapat mendukung masyarakat Kukar untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tersebut lewat dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Namun, dia menekankan, swadaya dari calon peserta lebih penting daripada bantuan tersebut, sehingga masyarakat tidak hanya berharap bantuan dari pihak lain, khususnya perusahaan.

Hal ini tak berarti bahwa dukungan dan bantuan dari perusahaan-perusahaan di Kukar tak diperlukan dalam pendidikan dan pelatihan tersebut.

“Saya sangat menyadari tentunya finansial ini sangat penting dan selalu kurang. Oleh karena itu, kalau ada bantuan dari swasta atau pemerintah, saya kira itu akan lebih melengkapi perjuangan ini,” katanya.

Tatang mendorong masyarakat membangun kemandirian serta mau berkorban dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Kukar. Kata dia, setiap orang, khususnya masyarakat Kukar, tidak boleh membiasakan diri menjadi pribadi yang memiliki “tangan di bawah”.

“Kalau tidak berkorban, apa pun nilainya, tidak bisa dimiliki. Tidak ada rasa memiliki atau tidak ada nilai perjuangannya,” ucap dia.

Ia menyebutkan, Komunitas Teater Ngayau memiliki tantangan tersendiri dalam mengembangkan seni pertunjukan dan perfilman di Kukar. Namun, Tatang mengaku sangat optimis bahwa para penggagas dan penggerak komunitas tersebut akan sukses mewujudkan misi mereka dalam mengembangkan kesenian dan kebudayaan di Kukar.

Dia meyakini bahwa komunitas tersebut akan melahirkan bibit-bibit unggul dalam dunia pertunjukan dan perfilman di Kukar. Pasalnya, mereka telah berhasil membangun kerja sama dengan pendiri Demiz Academy, Deddy Mizwar.

“Demiz di Indonesia itu salah satu acuan artis-artis yang sudah terkenal, dan ketika mereka punya sertifikat, nilai jualnya itu luar biasa,” katanya.

Mereka yang dididik serta dilatih seni pertunjukan dan perfilman lewat Demiz Academy, sambung Tatang, memiliki kemampuan dan kualifikasi yang berbeda dengan orang-orang yang berlatih secara otodidak.

“Mereka yang mengikuti pendidikan dan pelatihan ini akan punya sertifikat. Ini yang membedakannya dengan yang lain,” pungkas Tatang. (*)

Penulis: Ufqil Mubin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top