Kutai Kartanegara

Edi Damansyah Nilai Kadin Belum Kelola Sektor Perdagangan dan Industri di Kukar

Kukar, beritaalternatif.com – Bupati Kukar Edi Damansyah menyinggung peran dan fungsi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) saat membuka Musyawarah Kabupaten (Mukab) VII Kadin Kukar di Hotel Grand Elty Tenggarong, Senin (29/11/2021) pagi.

Kata dia, Kadin memiliki peran dan fungsi untuk membina serta memfasilitasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Selain itu, Kadin juga berhubungan dengan perdagangan dan industri.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPC PDIP) Kukar tersebut, selama ini Kadin belum mengambil peran maksimal di sektor industri dan perdagangan.

Edi menjelaskan, masih banyak pelaku usaha yang tak mendapatkan perhatian dari Kadin, salah satunya Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kerupuk di Kota Bangun serta UKM rumput laut di Muara Badak.

“Anggota Kadin itu penyedia jasa (kontraktor), yang selama ini kita melihat di Kukar baru sektor itu yang dilakoni. Sehingga yang berkaitan dengan perdagangan dan industri ini belum ada kehadirannya di Kukar,” sebut Edi.

Dia mengungkapkan, saat ini Pemkab Kukar tengah fokus membina dan mengembangkan UKM. Ia pun berharap Kadin terlibat di dalamnya.

Edi menegaskan, Kadin bukanlah kamar kontraktor Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan organisasi yang juga membawahi serta membina industri dan perdagangan.

“Sekali lagi saya garisbawahi, kamar dagang industri  salah satu pekerjaannya mengurusi perdagangan dan industri,” tegasnya.

Edi berharap siapa pun yang terpilih sebagai ketua Kadin yang baru memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk memajukan Kadin Kukar.

“Saya ingin tegaskan, Kadin ini adalah mitra pemerintah. Saya ingin mitra ini bekerja bersama-sama. Ditekuni dengan hati nurani dan profesionalisme sesuai dengan peraturan yang berlaku,” ujarnya.

Dia menyebutkan, terdapat beberapa potensi di Kukar untuk memajukan perekonomian pasca pandemi Covid-19. Selama ini, kerupuk di Kota Bangun dibawa ke Samarinda. Kemudian dibeli para konsumen Samarinda. Hal ini mencerminkan seolah-olah kerupuk merupakan olahan UKM Samarinda. Padahal kerupuk tersebut berasal dari Kukar.

“Saya menyampaikan hal ini untuk memotivasi semangat kita ke depannya. Lidi nipah dan lidi sawit itu sudah berharga. Siapa yang mengatur perniagaannya? Tidak ada satu pun dari Kadin,” tuturnya.

Proses produksi, sebut Edi, telah dikawal oleh pemerintah daerah. Hanya saja, produk tersebut belum dikembangkan lewat hilirisasi. Kebutuhan pasarnya pun belum dipenuhi secara maksimal.

“Saya berharap teman-teman Kadin ini hadir di sana untuk mencari peluang-peluang itu. Yang penting kerja bersama. Tidak ada keberhasilan kalau kerjanya sendiri-sendiri,” pungkasnya. (ar)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top