Kutai Kartanegara

Jembayan: Desa Minapolitan yang Memiliki Segudang Potensi

Kukar, beritaalternatif.com – Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dikenal sebagai desa minapolitan. Pasalnya, Jembayan memiliki banyak pengusaha yang membudidayakan ikan air tawar di keramba.

Di desa yang memiliki 23 RT serta penduduk sekitar 9.800 jiwa tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Jembayan tak memungut “pajak” dari budi daya ikan di keramba yang dilakukan warga setempat.

Sekretaris Desa Jembayan, Muhammad Juari mengungkapkan, pihaknya belum pernah menyusun dan menetapkan Peraturan Desa (Perdes) untuk dijadikan dasar menghimpun pungutan dari para pembudidaya ikan.

Namun, dia mengurai, masyarakat Jembayan memiliki pendapatan yang cukup tinggi yang didapatkan dari budi daya ikan. Pasalnya, produksi ikan air tawar seperti patin, nila, mas, dan bawal di Jembayan relatif tinggi.

“Walaupun sekarang ada sih sebagian masyarakat yang mengeluhkan mahalnya pakan dan susahnya penjualan ikan,” ungkap Juari kepada beritaalternatif.com saat ditemui di Kantor Desa Jembayan, baru-baru ini.

Ia menyebutkan, sebagai bentuk ikhtiar mendukung usaha warga, Pemdes Jembayan melakukan pembinaan dan memberikan pengarahan kepada kelompok-kelompok tani yang membudidayakan ikan.

Juari menjelaskan, Pemdes tak serta-merta memberikan bantuan kepada para pembudidaya ikan. Pemdes hanya mengarahkan mereka untuk mendapatkan modal serta memasarkan ikan ke berbagai wilayah di Kukar.

“Kita memberikan jalan karena desa tidak bisa serta-merta membantu begitu saja. Misalnya kita arahkan jalur untuk mendapatkan modal dan bantuan,” jelasnya.

Setiap kali diadakan Musyawarah Pembangunan Desa (Musrembangdes), kata dia, Pemdes mengundang perwakilan-perwakilan kelompok pembudidaya ikan. Aspirasi-aspirasi mereka diserap serta diakomodir dalam program pembangunan desa.

Selain sektor perikanan, Jembayan juga terkenal sebagai desa yang mengembangkan pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Pertanian dijalankan di lahan seluas 435 hektare, yang terdiri dari lahan basah dan kering.

Pengembangan sektor pertanian, ungkap Juari, tengah disiapkan Pemdes dalam rangka menyambut pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke sebagian wilayah Kukar dan Penajam Paser Utara (PPU). Tanaman yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di IKN meliputi padi dan sayur-mayur.

“Tanaman pangan dan hortikulturanya harus kita siapkan karena sayur-mayur nanti otomatis kalau terjadi pemindahan IKN, kita sudah siap. Dari sekarang disiapkan. Nanti kalau masuk IKN baru kita siapkan, kita bisa kelabakan,” ujarnya.

Usaha mengembangkan pertanian jelang pemindahan IKN, lanjut dia, dilakukan dengan cara melengkapi legalitas para petani sehingga Pemdes dapat dengan mudah mengarahkan kelompok-kelompok tani di Jembayan.

Di desa tersebut, jelas Juari, terdapat 23 kelompok tani dan satu Gapoktan yang membawahi kelompok-kelompok tani. Pemdes acap mengarahkan para petani melalui kelompok tani agar mereka terus memperbarui pengetahuan di bidang pertanian.

Kata dia, dengan jumlah lahan ratusan hektare serta puluhan kelompok tani tersebut, sejauh ini Jembayan belum mencapai swasembada pangan. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan pangan di desa tersebut, warga masih mendatangkannya dari luar wilayah Jembayan.

“Kami di sini produksinya sayur-mayur seperti sawi, kacang-kacangan, termasuk cabai. Itu pun belum mencapai swasembada,” ungkapnya.

Dukungan Perusahaan

Juari mengungkapkan, tak ada satu pun perusahaan yang menambang batu bara di wilayah Jembayan. Perusahaan-perusahaan hanya menggunakan lahan di Jembayan untuk menyimpan jetty.

Meski begitu, Pemdes tetap mengusulkan kepada pihak perusahaan agar menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka di Jembayan, sehingga dana CSR perusahaan disalurkan berdasarkan usulan yang disampaikan oleh pihak desa.

“Nanti kalau ada warga atau petani menginginkan bantuan itu, kami rekomendasikan ke perusahaan. Hanya berupa rekomendasi,” jelasnya.

Perusahaan batu bara juga merekrut tenaga kerja dari Jembayan. Namun, hal ini tak berarti semua warga memiliki akses untuk bekerja di perusahaan emas hitam. Pasalnya, kebutuhan tenaga kerja juga terbatas. Hanya mereka yang memiliki kompetensi dan kemampuan yang dibutuhkan perusahaan yang dapat diterima di perusahaan batu bara.

“Kami juga menekankan kepada pihak perusahaan, selama masih ada di wilayah kita, perekrutan kalau bisa kita habiskan di wilayah kita, baru kita keluar. Itu arahan dari kami. Pelaksanaannya sesuai dengan itu atau tidak, saya enggak tahu,” ucapnya.

Pariwisata dan Infrastruktur

Setiap tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Jembayan mencapai Rp 3 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan, pelayanan, serta bantuan untuk warga yang terdampak pandemi Covid-19.

Dengan anggaran tersebut, Pemdes Jembayan juga berencana mengembangkan sektor pariwisata. Sebab, di desa tersebut terdapat makam bersejarah dan bunker peninggalan Jepang.

“Kami sedang menyusun programnya. Nanti dari Lembaga Adat dan Pokdarwis untuk pengembangan pariwisata itu,” ungkap Juari.

Dari segi infrastruktur, dia menyebutkan, selama itu menjadi bagian dari Pemdes, maka pihaknya akan berupaya untuk membangunnya. Meski begitu, ia menyadari masih banyak kekurangan dalam pembangunan infrastruktur di desa tersebut. “Tapi mayoritas yang dilintasi oleh warga sudah bisa dinikmati,” katanya.

Ia berharap anggota legislatif tetap menempatkan Pokok Pikiran (Pokir) mereka untuk pembangunan Jembayan. Selama ini, Juari mengaku Pokir wakil rakyat memberikan efek yang sangat positif untuk pembangunan desa tersebut.

Setiap tahun, kata dia, Jembayan tak pernah sepi dari Pokir. Hanya saja nominal tak bisa ditebak. Pasalnya, anggaran itu berasal dari Pemkab, yang diusulkan DPRD Kukar. Jika dirata-rata setiap tahun, terdapat lima hingga enam Pokir anggota DPRD Kukar untuk Jembayan.  

Juari mengaku masih mengharapkan Pokir anggota legislatif untuk pembangunan desa tersebut. Dia berharap setiap tahun anggaran dari legislatif bisa terus meningkat.

“Kalau memang ada peluang-peluang untuk usulan, kami secepatnya melengkapi apa yang diminta oleh Pemkab. Biasanya dari kecamatan informasinya. Kemudian, apa saja kegiatannya, kami siapkan persyaratannya,” pungkas Juari. (ln)

Penulis: Arif Rahmansyah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top