Kutai Kartanegara

Ingin Kembangkan Potensi Desa Separi, Sugianto: Butuh Bantuan dari Pemda Kukar

Kukar, beritaalternatif.com – Desa Separi adalah salah satu desa di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) untuk menunjang kemajuan perekonomian masyarakat setempat, di antaranya batu bara, pariwisata dan pertanian.

Kepala Desa Separi, Sugianto menyebutkan, selain dari sektor pertambangan batu bara yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, sektor pertanian juga memiliki potensi, namun mempunyai kendala fasilitas seperti waduk.

Sugianto menjelaskan, waduk di Separi telah dibangun sejak 1975. Namun, saat ini kondisinya rusak sehingga harus direhabilitasi secara total.

“Sementara itu, potensi pariwisata yang juga sedang dikembangkan adalah Batu Gelap,” kata Sugianto kepada beritaalternatif.com, Rabu (12/1/2022) siang.

Dia menceritakan, sebagai desa tua dengan bukti peninggalan sejarah, Separi sebenarnya memiliki potensi pariwisata. Selain Batu Gelap, ada juga air terjun. Pihaknya juga berencana membuat panjat tebing di dekat bangunan bekas waduk.

“Terkait waduk, kami berharap Pemda bisa membuatkan lagi, karena petani Separi ini kan sekarang jarang yang mau bertani karena waduknya rusak,” sebutnya.

Wewenang provinsi ataupun kabupaten, ia berharap pemerintah daerah dapat mengabulkan aspirasi masyarakat Separi tersebut. Menurutnya, pembangunan waduk untuk menunjang sektor pertanian merupakan program unggulannya jika perusahaan tambang tak lagi beroperasi di Separi.

Kata dia, saat ini sejumlah perusahaan tambang batu bara tak lama lagi akan berhenti beroperasi. Karena itu, waduk diharapkan untuk menunjang pertanian mesti dipersiapkan sejak dini.

Sugianto berharap waduk yang dibangun sejak tahun 1975 seluas 85 hektar itu bisa diperbaiki oleh pemerintah daerah. Ia beralasan, warga Desa Suka Maju, Giri Agung, Buana Jaya dan Bukit Pariaman mau bertani ke Separi dengan sistem bagi hasil.

“Jadi, kita ingin mengembangkan Bumdes kalau waduk ini diperbaiki kembali,” tuturnya.

Sementara itu, dari segi pelayanan desa, sejak Indihome masuk ke Separi, pihaknya juga akan fokus menjalankan program pelayanan sistem berbasis digital seperti program Simpel Desa.

Dengan mulai terkikisnya masalah jaringan, ia berharap Pemda Kukar mampu mengambil contoh dari desa-desa di Jawa, seperti pembuatan surat menyurat berupa surat nikah dan lainnya bisa melalui aplikasi.

“Seperti di Banyuwangi, program satu desa satu pintu untuk program pelayanannya. Karena banyaknya aplikasi di desa, kenapa kita tidak mengerucut dijadikan satu pintu untuk mempermudah masyarakat?” katanya.

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam pembangunan, Sugianto menyarankan agar Pemda tidak hanya melihat masyarakat desa sebagai obyek pembangunan semata, tetapi juga memperhatikan serta mengutamakan pembangunan infrastruktur dan SDM.

“Harapannya memang ekstra kita bekerja, karena tanpa desa, daerah juga tidak bisa dikatakan maju. Majunya daerah itu karena majunya desa. Harus ada sinkronisasi dan pembangunan yang merata,” sarannya.

Di desa yang memiliki slogan berpikir positif, hidup bermanfaat dan berkah tersebut, banyak hal yang sudah dicapai oleh Sugianto selama menjabat sebagai kepala desa.

Di sisa masa jabatannya, selain memperjuangkan perbaikan waduk yang menjadi masa depan masyarakat Separi, ia juga akan fokus membangun infrastruktur seperti jalan desa Separi ke L4 yang sudah rampung disemenisasi 1,5 kilometer dari target 2,5 kilometer.

Ia menargetkan pada tahun 2023 mendatang semenisasi jalan tersebut sudah rampung dikerjakan. Sebab, jalan ini menjadi program pokok desa untuk mempermudah akses masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

“Karena kalau jalannya bagus, orang juga nyaman kalau mau masuk ke desa,” tuturnya.

Selain pelayanan yang baik, Sugianto juga fokus di program santunan kematian sebagai bentuk kearifan lokal desa, tempat pengajian, serta klinik desa.

Ia menyebutkan, bila ada orang yang meninggal akan diberikan santunan Rp 2 juta. Selain itu, pembangunan TPA untuk kegiatan keagamaan dan pembangunan klinik desa, sehingga masyarakat tidak lagi berobat ke luar desa. Hal ini dilakukan Sugianto sebagai kepala desa dalam melayani masyarakatnya.

Sugianto berharap Pemda dapat membantu mempermudah mengeluarkan izinnya. Klinik dinilainya sangat penting karena sejak 2018 Puskesmas belum mempunyai bidan.

Pengelolaan klinik, lanjut dia, diharapkan dapat membawa hasil untuk meningkatkan pendapatan asli desa. Selain itu, klinik diharapkan dapat memberdayakan masyarakat desa yang sekolah di jurusan kesehatan.

Kata Sugianto, membangun manusia lebih sulit dibandingkan infrastruktur. Sebagai desa yang belum memiliki sekolah setingkat SMA, warga Separi yang menempuh pendidikan di daerah lain bisa kembali mengabdi di Separi.

“Kami berharap masyarakat yang berpendidikan di luar untuk kembali mengabdi ke desa,” pungkasnya. (*)

Penulis: Arif Rahmansyah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top