Kutai Kartanegara

Keresahan terhadap Rendahnya Indeks Literasi Jadi Alasan Pembentukan GLK

BERITAALTERNATIF.COM – Masalah literasi masih dianggap sepele di Indonesia, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Padahal, indeks literasi bangsa ini masih rendah.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Erwan Riyadi dan beberapa koleganya mendirikan Gerakan Literasi Kutai (GLK)—sebuah gerakan yang dibangun pada tahun 2017, yang telah mengadakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan literasi di tanah Kutai.

Bagian ini merupakan artikel dari hasil wawancara kami dengan tokoh literasi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tersebut. Dalam artikel ini, Erwan menjelaskan tentang beberapa hal penting yang menjadi dasar pembentukan GLK, serta masalah-masalah mendasar yang berkaitan dengan GLK dan perlunya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia.

Mengapa Anda mendirikan dan membangun GLK?

Pada awalnya kan bergeraknya bukan di literasi, tapi di industri kreatif. Kemudian ekonomi kreatif. Lalu, masuk ke budaya dan literasi. Belakangan ini juga mulai melebar ke edukasi. Nah, literasi itu memang tetap menjadi dasar.

Jadi, aku sering mengatakan, pergerakan ini dasarnya adalah literasi. Kita bicara tentang pemberdayaan: mengangkat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), memberikan pembekalan, dan mengangkat kapasitas dan kompetensi, yang ujungnya ada di kualitas SDM. Karena memang itu isu yang masif relevan hingga sekarang.

Literasi ini sebenarnya caranya saja. Karena menyentuh SDM kan bisa dengan berbagai macam cara. Aku memilih literasi sebagai cara yang paling enak. Sebenarnya ini juga menjadi bagian dari strategi kenapa literasi digaung-gaungkan.

Sekali lagi, karena memang cerita tentang literasi itu sendiri sesuatu yang memang menarik untuk terus digeluti. Dan pasti, ketika bicara literasi dan pemberdayaan, tidak akan ada ujung kapan dia berhenti. Otomatis itu akan menjadi sebuah gerakan yang dilakukan terus-menerus. Bahkan, ada istilah begini, “Kita belajar sepanjang hayat”. Itu kan bagian dari idiom-idiom yang dipopulerkan dan bisa mengangkat isu literasi itu sendiri. Itu yang pertama: gerakan yang tidak akan pernah berhenti dan tidak akan pernah ada ujungnya.

Yang kedua, literasi itu sendiri kan menyangkut semua hal dan urusan, apa pun itu. Ketika bicara literasi, kita bisa mengaitkannya dengan sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain. Itu artinya, dari sisi rentang waktunya enggak ada batasnya. Dari sisi ruang lingkupnya pun sesungguhnya enggak ada batasnya, karena menyangkut semua aspek kehidupan kita.

Yang ketiga, lebih pada nilai strategisnya. Kita kan butuh waktu untuk mengangkat ini ke permukaan dan menciptakan daya tarik bagi orang untuk bisa ikut. Poin literasi kan itu. Itu sesuatu yang seksi.

Kenapa demikian? Karena literasi itu sendiri kan baru-baru belakangan ini orang tahu. Dulu-dulunya kan tidak. Artinya, ini sesuatu yang relatif baru. Meskipun isi dan kontennya bukan hal yang baru. Istilahnya saja yang baru. Ini penting untuk gerakan. Ini tentang nilai strategis dan tentang mengambil momentum.

Jadi, pertama, tentang rentang waktu yang tidak berbatas. Kedua, ruang lingkup yang tidak berbatas. Ketiga, tentang nilai strategis dan momentumnya. Nah, ini ketika dikemas menjadi sebuah gerakan, dimungkinkan untuk menarik perhatian banyak orang.

Karena sekali lagi, ketika ini mau dibesarkan, kan kita punya banyak pilihan mau melakukan seperti apa. Kalau aku sendiri, sesuai dengan situasi dan kondisinya, sumber dayanya, ya sudah, konteksnya ini sebuah gerakan. Untuk sebuah gerakan, aku memerlukan ketiga-tiganya, terutama yang ketiga tadi: daya tarik, momentum, dan nilai strategis.

Sebelum GLK dibentuk, Apakah Anda melihat literasi masyarakat Kukar bermasalah?

Pasti ada masalah. Gerakan itu kan muncul ketika ada sesuatu yang tidak ideal. Kalau sudah bagus, enggak perlu ada gerakan dong! Gerakan pasti berasal dari sesuatu yang tidak ideal, yang kemudian akan menimbulkan kegelisahan, keresahan, atau apa pun. Itu bagi orang-orang tertentu yang memang memiliki referensi dan pemahaman tentang itu. Itu yang kemudian membuat dia termotivasi melakukan sesuatu. Maka muncullah sesuatu yang disebut gerakan.

Jelas. Ada banyak problem di situ yang harus diselesaikan dan diperbaiki. Nah, gerakan itu kan cara kita untuk membenahi, memperbaiki, bahkan sampai tingkat menyempurnakan apa-apa yang kita anggap belum pada tahap itu.

Jadi, gerakan sejatinya selalu lahir dari kondisi yang tidak ideal. Apakah banyak masalah di situ? Iya. Apakah banyak problema di situ? Pasti.

Apa yang tidak ideal terkait literasi di Kukar?

Yang pertama terkait kepedulian. Bagi aku, ini sesuatu yang penting. Sangat penting. Tapi kok hal yang sepenting itu enggak dianggap penting oleh banyak orang. Itu masalah.

Sudah jelas bahwa kita kepingin membangun bangsa, negara, ini dan itu. Tapi kan kita tidak menyiapkannya dengan serius. Literasi kan bicara tentang memberikan seperangkat kemampuan. Sudah jelas kita kepingin unggul dan berada pada level yang spesial. Tapi, faktanya kita sendiri enggak serius menyiapkan itu. Itu kan masalah. Ini yang pertama, tentang kepedulian. Mau, tapi enggak cukup peduli.

Yang kedua, lebih tentang pengetahuan dan pemahaman orang-orang tentang literasi. Coba dilihat kronologisnya. Di kita, ini konteksnya negara ya. Kapan literasi itu mulai dikenal? Baru setelah ada yang namanya Gerakan Literasi Nasional (GLN), yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Itu 2016. GLN itu baru muncul 2016.

Seolah-olah literasi kan baru dikenal saat itu. Baru diurusi dan diperhatikan itu tahun 2016. Ini kan aneh. Sesuatu yang sangat penting kok baru diseriusi 2016 dengan bikin GLN? Padahal, yang namanya obyek literasi itu kan sudah ada sekian tahun sebelumnya. Enggak berbatas. Dari dulu sudah ada tentang SDM dan segala macam.

Memang ini terkait pengetahuan dan pemahaman. Negara saja baru terlihat serius tentang literasi setelah ada GLN. Itu pun lebih karena tuntutan keadaan tentang sebuah fakta yang memang merisaukan dari indeks literasi kita yang dibikin oleh lembaga-lembaga independen kayak PISA, yang menempatkan Indonesia berada di urutan bawah. Itu merisaukan. Kemudian direspons oleh pemerintah, salah satunya dengan membuat GLN.

Idealnya itu bukan hanya tentang membangun sebuah gerakan literasi. Idealnya kan harus sampai pada sebuah upaya yang lebih masif. Mulai dari menyiapkan regulasinya, kerangka teknisnya, sampai pada pembiayaan dan seterusnya.

Nah, yang selama ini terjadi, ketika bicara literasi, secara definisi begitu kan, penyentuhan itu baru pada sebatas membuat gerakan, yang di lapangan pun gerakan itu enggak bergema.

Itu artinya apa? Mindset kita tentang literasi itu sendiri yang belum cukup. Nah, ini kan menjadi sebuah keresahan. Urusan sepenting ini kok menyentuhnya cuman seperti ini.

Pengetahuan dan pemahaman tentang literasi itu begitu penting. Kalau memang pengetahuan dan pemahaman itu rendah, otomatis penyentuhannya juga akan minim. Seadanya saja. Dan itu menurut aku meresahkan.

Lalu, meresahkan lagi ketika melihat fakta tadi. Realita tentang indeks literasi kita yang memang berada di posisi bawah. Data itu kan enggak bergerak naik sejak awal disurvei. Kalau enggak salah tahun 2010.

Itu kan yang menyurvei lembaga independen dunia. Ini bicara nasional dulu. Kan asal-muasalnya dari situ. Level Indonesia kan di bawah. Selevel dengan negara-negara miskin di Afrika. Bahkan survei PISA tahun 2018 pun masih menempatkan Indonesia di urutan bawah. Selama rentang waktu ketika disurvei awal sampai yang terakhir, itu enggak ada kenaikan yang signifikan.

Artinya apa?

Keseriusan kita untuk memperbaiki itu kan memang enggak maksimal. Itu menggelisahkan lagi. Kok bisa ya urusan yang sepenting ini menjadi sesuatu yang dianggap penting? Mungkin bagi orang lain enggak penting. Tapi bagi aku yang punya sedikit pengetahuan dan pemahaman tentang itu, itu kan mengkhawatirkan. Miris sekali.

Itu yang kemudian pendorong dan motivasi aku. Harus bikin sesuatu. Maka lahirlah yang namanya gerakan literasi. Untuk apa? Ya gampangnya untuk memperbaiki itu semua.

Indeks literasi yang dibikin lembaga independen itu kan memang tidak mencerminkan sesuatu yang bersifat pasti. Kan ada juga yang menolak itu karena dianggap tidak menggambarkan realitanya. Okelah mungkin tidak 100%, tapi faktanya kan enggak bisa dipungkiri bahwa memang literasi kita rendah.

Yang bikin itu kan lembaga kredibel. Bukan lembaga sembarangan. Mereka punya metode untuk membuat itu. Yang diukur itu kan indeks baca. Di situ juga ada ngukur tentang pengetahuan-pengetahuan lain, termasuk matematika.

Yang disurvei itu memang anak sekolah. Dia enggak menyurvei seluruh rakyat Indonesia. Yang dijadikan tolak ukur kan SMP. Usia rentang sekian dan sekian. Memang sampling. Makanya hasil survei itu sendiri kan debatable. Jadi, ada yang enggak terima hasil surveinya.

Tapi, aku sendiri tanpa melihat hasil survei, memang literasi kita rendah. Kalau kita mau bicara minat baca, sangat kelihatan bahwa itu rendah. Kalau yang lain-lain masih relatif. Misalnya matematika. Kalau kita bandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, kita kalah. Apalagi Singapura. Jauh lagi. Dengan Malaysia saja kita sudah kalah untuk literasi sains.

Apakah ini ada kaitannya dengan masalah pendidikan kita?

Iya. Ini kan ada kaitannya dengan pendidikan. Ada kaitannya dengan upaya membangun SDM. Kalau itu bermasalah, kita mau berharap apa dari generasi yang dihasilkan dari sistem itu?

Makanya, ketika bertemu dengan literasi, akhirnya akan bertemu dengan sistem edukasi. Sistem pendidikan, terutama pendidikan formal. Itu yang dominan. Meskipun di pendidikan kan kita tahu ada informal dan nonformal. Tapi, yang dominan kan yang formal. Mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, sampai di level perguruan tinggi.

Belakangan ini aku pun merasa, “Oh iya, sepertinya ada masalah di sistem pendidikan kita”. Sudah sampai di situ. Ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Aku ngerasa kayak begitu. Berarti, kalau ada masalah, harus diperbaiki dong.

Siapa yang harus memperbaiki? Seperti apa cara memperbaikinya? Bukan urusanku sebenarnya kalau bicara tentang negara. Itu terlalu besar. Tapi bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki, aku meyakini iya.

Nah, itu kan sempat direspons oleh Presiden Jokowi dengan menempatkan seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang tidak berasal dari kalangan pendidik. Kenapa? Itu kan perlu dipertanyakan. Apa sebetulnya misinya? Kan ternyata ada. Kepingin perubahan.

Sejauh yang aku pantau memang ada perubahan yang dilakukan di sistem pendidikan kita. Barangkali banyak perubahan sejak Nadiem itu jadi Menteri. Mulai ngerubah ini dan itu. Yang populer kan kayak Merdeka Belajar, Kampus Belajar, dan lain-lain. Semua itu kan ngerubah. Tujuannya apa? Untuk mengubah output-nya. Hasilnya.

Kalau enggak diubah, berarti kan sudah bagus. Kenapa diubah? Berarti ada yang enggak bagus. Perbaikan. Itu artinya negara sendiri sudah sampai pada level yang serius untuk memperbaiki itu.

Ketika ada upaya untuk memperbaiki pendidikan dan sistem pendidikan, itu kan otomatis akan memperbaiki literasi. Kadang orang bingung dengan literasi. Kalau pendidikan kan jelas. Ada kementeriannya. Ada yang ngurusi. Kalau literasi kan tidak. Terus, tiba-tiba muncul istilah ini. Urusan siapa ini? Apa yang diurusi?

Ya, tidak masalah semua masih bertumpu di pendidikan dengan sistem pendidikan yang dikembangkan. Tapi kemudian itu akan lebih bagus dan ideal ketika konsep pendidikan itu sendiri sudah include dengan konsep tentang literasi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top