Kutai Kartanegara

Erwan Riyadi: GLK Tertantang Menghasilkan Karya dalam Bentuk Sastra Dongeng

Kukar, beritaalternatif.com – Gerakan Literasi Kutai (GLK) kembali melaksanakan Talkshow Bincang Kata-Kata yang kedua pada Rabu (23/3/2022) malam di Kedai Kopi Rogos, Jalan Kartini, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong.

Talkshow kali ini mengangkat tema Literasi Dalam Berkarya. Kegiatan yang dipandu oleh Viola Meilinda dan Abdul Aziz ini mendatangkan dua orang narasumber: Fahnur Jingga dan Erwan Riyadi.

Viola dan Aziz mengawali talkshow ini dengan mengingatkan bahwa literasi merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk menciptakan karya.

Dalam kesempatan tersebut, Erwan Riyadi menyebutkan, pada dasarnya manusia mengembangkan kegemaran berbicara sejak lahir. Manusia juga merupakan makhluk sosial yang suka bicara dan suka mendengar, sehingga manusia tidak perlu diajarkan untuk berbincang.

Namun, berbincang yang konstruktif harus diusahakan. Hal itu dapat dilakukan melalui kegiatan diskusi. “Itu harus dilatih, harus dikondisikan, bahkan harus dipaksa,” kata Erwan.

Ketika disertai tema dan alur yang rapi, manfaat diskusi pun bisa didapatkan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Erwan juga menyinggung literasi dalam berkarya, yang dinilainya luas dan bermacam-macam, salah satunya sastra lisan berupa dongeng.

Ia menyebutkan, dahulu dongeng tak dipertunjukkan di depan umum, namun hanya di lingkungan keluarga, seperti pengantar tidur untuk anak-anak.

Viola Meilinda memandu acara Talkshow Bincang Kata-Kata yang diadakan GLK di Kedia Kopi Rogong Tenggarong. (M. As'ari/Berita Alternatif))

Viola Meilinda memandu acara Talkshow Bincang Kata-Kata yang diadakan GLK di Kedia Kopi Rogong Tenggarong. (M. As’ari/Berita Alternatif)

Namun, seiring perkembangan zaman, mendongeng berkembang menjadi salah satu bentuk karya sastra lisan. “Tapi sudah jarang ditemui. Dan di Kutai Kartanegara, penggiat dongeng itu masih dibilang sedikit,” bebernya.

Dia mengatakan, untuk menghasilkan suatu karya, seseorang harus memiliki literasi yang baik. Dengan begitu, pelakunya akan menciptakan budaya dan proses transfer of knowledge.

Erwan mengaku bahwa pengembangan karya dalam bentuk sastra dongeng merupakan tantangan tersendiri bagi GLK. “Agar terus bisa melestarikan sastra dongeng ini sehingga tidak hilang ditelan zaman,” ucapnya.

Fahnur Jingga, yang merupakan pegiat sastra dongeng, mengaku tertantang mengembangkan sastra tersebut di Kukar.

Ketertarikannya pada sastra dongeng terasah dan terbentuk melalui latihan yang diselenggarakan Muslimah Entrepreneur di Kota Samarinda.

Setelah itu, dia mendongeng dalam kegiatan penggalangan dana untuk Palestina di Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Kemudian, Fahnur juga sering mengisi dongeng di berbagai tempat. “Lebih sering itu di Samarinda. Di Kukar malah jarang,” ungkapnya. (*)

Penulis: M. As’ari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top