Kutai Kartanegara

Erwan Riyadi: Masalah Literasi Harus Diselesaikan lewat Pendidikan

BERITAALTERNATIF.COM – Pendiri Gerakan Literasi Kutai (GLK) Erwan Riyadi menyebutkan bahwa literasi yang rendah berakar pada masalah pendidikan. Pasalnya, literasi merupakan “hasil” dari berbagai proses pendidikan pada tingkat paling rendah hingga perguruan tinggi.

Di bagian ini, beritaalternatif.com menerbitkan artikel yang merupakan hasil wawancara yang dengan Erwan. Dalam artikel ini, ia menguraikan masalah literasi dari pusat hingga daerah. Dia juga menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah literasi Indonesia yang masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain.

Apa akar masalah literasi di negara kita?

Ada enam literasi yang dasar. Apakah ada yang lain? Ada. Banyak. Kita mau bikin apa pun bisa dengan literasi. Literasi kesehatan dan literasi apa lagi gitu kan. Sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya.

Intinya literasi adalah seperangkat kemampuan yang dalam bahasa lain disebut kapasitas dan kompetensi. Nah, bagaimana kompetensi itu bisa didapatkan dengan baik? Proses itu edukasi atau pendidikan. Bisa non-formal, informal, maupun dengan formal. Tiga-tiganya ini harus dibenahi. Yang pertama harus dibenahi itu adalah yang formalnya. Ini kan setiap hari dilakukan. Anak-anak itu kan setiap hari sekolah. Dan itu pasti akan mempengaruhi hasilnya. Hasilnya adalah literasi.

Sekarang gini. Sekarang ada survei yang mengatakan bahwa indeks literasi kita itu rendah, artinya itu hasilnya. Itu pastinya akan kembalinya ke pendidikan. Ada masalah berarti di situ.

Jadi, ketika kita menganggap ini penting, harus dilakukan dengan cara-cara yang serius. Tapi, kalau kita lihat kenyataannya, apakah betul literasi itu dibenahi secara serius? Ya, bisa beda pendapat. Kalau aku mengatakan, serius. Tapi belum maksimal. Karena belum maksimal, berarti perlu dimaksimalkan. Dan itu masih masalah di aku.

Bagaimana dengan indeks literasi di daerah?

Yang saya uraikan itu kan di level nasional. Yang namanya nasional itu kan kumpulan dari lokal. Otomatis itu menggambarkan kondisi lokal. Nasionalnya saja sudah begitu. Otomatis di daerah juga begitu. Karena kan nasional itu kumpulan dari daerah-daerah. Akumulasi.

Nah, di daerah sendiri kan bisa beda-beda. Daerah ini dengan daerah itu bisa beda. Mungkin ini bagus, itu tidak, bahkan di bawah. Ada kesenjangan. Kualitas di Pulau Jawa dengan Pulau Kalimantan itu sama enggak? Beda. Ada kesenjangan. Dan pasti literasinya pun akan beda.

Sekarang kalau bicara tentang lokal, ya logikanya kita akan merasa bermasalah lagi. Kita kalau mau bandingkan dengan Jawa kan sulit. Kukar saja dengan Samarinda itu beda. SMA 1 Tenggarong dengan SMA 1 Samarinda mau diadu, itu kan secara akumulatif pasti beda. Itu dari dulu. Tetap lebih tinggi yang di ibu kota provinsi.

Provinsi Kaltim mau dibandingkan lagi dengan Jawa Barat misalnya, Kaltim di bawah lagi. Itu kalau mau diukur-ukur. Nah, ini kan menjadi motivasi yang besar lagi. Kita harus angkat literasi kita di lokal untuk bisa mengejar ketertinggalan dengan daerah lain.

Terus, bukan hanya mengejar ketertinggalan dengan daerah lain, tapi juga ketertinggalan dalam standar tertentu. Kita harus bisa sampai di level tertentu misalnya. Karena secara nasional pun kita masih bermasalah.

Sekadar ilustrasi saja. Urutan perguruan tinggi terbaik di Asia. Kita masuk enggak 10 besar? Enggak. Di Indonesia, universitas terbaik dari tahun ke tahun kan cuman Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), ITB, Unair, dan lain-lain. Yang masuk 10 besar kan itu-itu saja.

UI sama UGM saja kalau mau disandingkan dengan negara-negara lain masih jauh. Kalau aku enggak salah ingat, posisinya UI dan UGM itu ada di posisi 200. Masih jauh. Pasti literasinya pun akan beda.

Bagaimana menyelesaikan masalah literasi dari tingkat nasional hingga daerah?

Nah, kalau kita pengen mengangkat literasi dengan serius, itu kan akan menjadi salah satu parameter. Oke kalau sekarang di posisi bawah, tapi sekarang perlahan harus diupayakan sampai masuk 10 besar dunia. Itu kalau mau serius.

Tapi kan enggak pernah ada pikiran sampai ke situ. Kita mungkin berubah dan meningkat, tapi kan dibandingkan negara lain, kita tetap tertinggal. Dalam posisi ini, kalau di aku, ini memprihatinkan.

Bagaimana bisa kita mau mengangkat sumber daya manusia dengan sistem seperti ini? Maka upaya pembenahan dan perbaikan menjadi suatu keharusan.

Nah, sekarang kita paham bahwa itu sesuatu yang besar. Terus, bagaimana supaya bisa kita sentuh? Inilah alasan kemunculan gerakan ini. Gerakan yang memang bisa kita lakukan sesuai kemampuan kita. Itu saja. Kecil. Dia bermain di lokal saja. Ya sudah, itu saja dulu. Dengan harapan, ini kan lama-lama akan membesar.

Lalu, isu-isunya pelan-pelan kita angkat dan sampaikan. Sekarang orang-orang jadi tahu. Sampai lama-lama kan orang jadi serius. Ini ada masalah. Nanti kan pada saatnya ada gerakan lagi yang akan mengubah yang lebih besar. Itu akan diubah oleh kekuatan besar yang bentuknya lebih kolaboratif: pemerintah, masyarakat, dan organisasi-organisasi terkait.

Nah, itu kan harus dimulai sekarang. Dimulai dari mana? Kalau passion-nya gerakan, kita mulai dari gerakan saja dulu. Dengan ala kadarnya. Tentu harapannya ini lama-lama akan membesar dan tidak hanya sebatas digerakkan oleh gerakan itu sendiri. Itu harus digerakkan secara masif oleh pemerintah dan komunitas. Itulah sebuah sistem. Ini ada pada negara.

Ada yang mengatakan bahwa ini seperti benang kusut. Ada benarnya juga. Tapi sebetulnya enggak juga sepenuhnya benar. Karena upaya membenahi pendidikan itu sudah dilakukan dari dulu. Bahkan pernah ada istilah di Kemendikbud itu, ganti menteri, ganti sistem. Itu dari dulu. Berubah terus. Tapi enggak bagus-bagus. Nah, itu dia. Berubah, tapi enggak kunjung bagus. Padahal berubah terus. Namanya berubah, bentuknya berubah, tapi ternyata enggak mengubah apa pun yang betul-betul signifikan. Itu yang jadi pertanyaan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top