Kutai Kartanegara

Rektor Unikarta Nilai Hj. Arpiah Rusli Layak Jadi Tokoh Pendidikan Perempuan Kukar

Kukar, beritaalternatif.com – Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Prof. Ince Raden menanggapi usulan Dharma Wanita Persatuan UP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) yang mendorong Hj. Arpiah Rusli sebagai tokoh wanita di dunia pendidikan.

Ince mengaku mengenal Arpiah sejak ia ditugaskan di Unikarta tahun 1994. Menurutnya, sosok Arpiah adalah tokoh yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan.

“Pada zaman berdirinya Unikarta pun, suami beliau dan tentunya beliau sebagai istri, itu punya kontribusi dalam rangka mendorong adanya perguruan tinggi di Kukar,” ungkap Ince, Rabu (6/4/2022).

Arpiah dinilainya sebagai sosok yang sangat gigih dalam menyebarkan dan mengembangkan dunia pendidikan di Kukar.

“Beliau juga pengurus di Yayasan Pendidikan Kutai (YPK) yang kita kenal ada lembaga pendidikan dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama sampai Sekolah Menengah Atas. Bahkan juga yang terdahulu, bersama beliau tentunya Unikarta ini pernah dipegang oleh YPK,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, Arpiah adalah pribadi yang senang dengan dunia pendidikan, bahkan di umurnya yang sudah senja, ia masih mengambil program Strata 3 di Universitas Mulawarman (Unmul).

“Pada saat beliau ke Unmul itu masih menyetir sendiri dan saya sering ketemu beliau menyetir sendiri itu lewat Loa Janan. Jalan di Tenggarong Seberang belum bagus waktu itu,” ungkapnya.

Artinya, kata dia, Arpiah adalah teladan untuk generasi-generasi muda bahwa mengejar pendidikan tinggi itu tidak memiliki batasan umur.

“Rasa ingin tahu yang tinggi dan jiwanya memang di pendidikan, beliau lanjut sampai S3,” jelasnya.

Saat Arpiah masih sehat, ia sering mendatangi Unikarta, serta mengingatkan mahasiswa, pegawai dan dosen Unikarta untuk meningkatkan kualitas kampus tersebut.

“Beliau juga sering masuk ke fakultas-fakultas dan lembaga-lembaga penelitian. Beliau lama mengajar bahasa Inggris dari SMP sampai di Unikarta,” bebernya.

Ketika mengabdi di Unikarta, selain menjadi dosen bahasa Inggris, Arpiah juga pernah menjabat sebagai Kepala Laboratorium Bahasa Unikarta, serta mengajar beberapa mata kuliah.

Ince pun melihat dan mengetahui perjuangan Arpiah sejak 28 tahun lalu karena sering bertemu di Unikarta. Namun, sejak tahun lalu, setelah kondisi kesehatan perempuan yang kini berusia senja tersebut, Rektor tak lagi melihatnya di kampus.

“Mungkin sudah tidak memungkinkan untuk bisa gabung di kita. Namun, saat masih bugar, masih bisa menyetir sendiri, beliau sering ke kampus,” bebernya.

Karena itu, Rektor Unikarta ini sangat mendukung Arpiah untuk dijadikan sebagai tokoh pendidikan perempuan di Kukar.

Namanya pun bisa dicantumkan sebagai nama di salah satu fasilitas umum milik pemerintah, khususnya fasilitas-fasilitas pendidikan di sekolah yang pernah dibangun dan dibesarkannya.

Mengingat perjuangan dan semangat Arpiah dalam memajukan pendidikan Kukar, Pemkab dapat mempertimbangkannya untuk mencantumkan nama tokoh tersebut sebagai nama jalan atau fasilitas pendidikan.

“Tentunya dengan sisi beliau yang diperlihatkan berjuang di dunia pendidikan. Saya pikir itu menjadi bagian pertimbangan tertentu,” jelasnya.

Usulan tersebut dinilainya tidak berlebihan. Pasalnya, Arpiah pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 1983-1998.

“Sehingga banyak sekolah-sekolah yang juga diperjuangkan oleh beliau bersama dengan tokoh-tokoh masyarakat di Kukar untuk bisa berkembang dan maju sampai saat ini,” terangnya.

Penulis: M. As’ari
Editor: Ufqil Mubin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top