FEATURE

Journey to Iran

BERITAALTERNATIF.COM – Apa yang Anda bayangkan tentang Iran? Hm, mungkin keras, saklek, jumud, fanatis, atau puritan? Bayangan seperti itu pula yang pertama kali ada dalam benak saya. Saya teringat pada pagi pertama yang saya saksikan di negeri ini, musim gugur 1999. Pagi itu terasa begitu muram, semuram bandara Mehrabad, Teheran, yang sungguh out of date, dan saya tidak sekilas pun menyangka bahwa saya akan hidup di negeri ini hingga delapan tahun kemudian.

Suasana muram itu menguap dua jam kemudian, ketika jendela mobil yang membawa saya dari Mehrabad ke kota Qom menyuguhkan pemandangan eksotis, sebuah jembatan kecil kokoh yang menuju ke semacam masjid berkubah emas. Kubah emas itu memancarkan kemilau, memantulkan sinar matahari pagi. Suami saya—oh ya, saya lupa menceritakan, saya berangkat ke Iran bersama suami saya dan kami sama-sama mendapatkan beasiswa S2 dari pemerintah Iran, beasiswa yang sayang sekali kelak kami sia-siakan dengan berbagai macam alasan—memberi tahu bahwa kubah emas itu menaungi makam Sayyidah Ma’shumah, salah satu keturunan Nabi Muhammad.

Jalanan di depan bangunan berkubah emas itu ramai dipenuhi orang lalu-lalang. Laki-lakinya sebagian besar bercambang lebat, beberapa di antaranya mengenakan serban dan jubah. Perempuannya menggunakan kain hitam yang diselubungkan ke seluruh tubuh, namun wajahnya masih terlihat, tidak bertutup cadar ala orang Arab. Segera saya diberi tahu bahwa kain hitam itu bernama chadur. Di kota Qom, chadur hampir wajib digunakan. Sejauh mata memandang, saat itu, saya tidak menemukan perempuan tanpa chadur.

Kemudian saya pindah ke Qazvin yang budayanya tidak terlalu ‘konservatif ’. Chadur tidak banyak dipakai di sini. Saya mulai berkenalan dengan mahasiswi-mahasiswi Iran di asrama Imam Khomeini International University, Qazvin, tempat para mahasiswa asing dikonsentrasikan untuk mempelajari bahasa Persia. Sebagian dari mereka datang dari daerah yang jauh dari kota besar, sehingga terkesan sangat lugu. Dengan mata belok mereka yang indah, mereka mengerumuni saya dan menatap saya penuh antusias; menanyakan banyak hal tentang Indonesia. Sepertinya, itulah pertama kali mereka bertemu dengan orang asing. Di Qazvin pula saya mulai melihat adanya kebebasan berkarier yang dimiliki kaum perempuan di negeri ini, bahkan sopir bus perempuan pun ada di sini melayani trayek QazvinTeheran.

Seiring dengan berlalunya waktu, saya semakin banyak memiliki teman orang Iran, apalagi setelah kami pindah ke Teheran dan bekerja sebagai jurnalis di Iran Broadcasting (IRIB). Di antara mereka, yang perempuan tentunya, kemudian menjadi sahabat saya. Kami saling curhat tentang banyak hal, sebagaimana lazimnya perempuan-perempuan di dunia ini. Bersama, kami shopping atau sekadar cuci mata, saling mengirim hadiah atau sekadar masakan, mengikuti ceramah di masjid pada bulan Ramadhan, atau saling memberi saran mengenai bagaimana merawat anak yang sakit. Semuanya memberi kenangan, yang sering kali terlewat tanpa sempat tercatat. Semua kenangan itu seolah mengendap diam-diam di benak saya dan membantu saya dalam melihat, memahami, dan mengidentifikasi berbagai aroma yang tertabur di udara selama saya melakukan perjalanan. Ya, menjelang kepulangan kami ke Tanah Air, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan keliling Iran.

Dalam perjalanan itu, kami (saya dan keluarga) berjumpa orang-orang Iran dari berbagai etnis, budaya, dan agama. Kami menyaksikan keanggunan dan keningratan orang-orang Gilan di utara, militansi kesukuan orang-orang Kurdi di barat, kehangatan nyala api orang-orang Majusi di timur, hingga keramahan khas orang-orang etnis Arab di selatan Iran. Desa kuno berusia lima ribuan tahun di Abyaneh, kebun-kebun mawar yang air sulingan bunganya dipakai untuk mencuci Ka‘bah, kebun teh di pinggir Laut Kaspia, puing-puing perang di Khorramshahr, kuil sesembahan orang Persia kuno di Dezful, kota kuno di Shoustar yang pernah diperebutkan pada era Khalifah Umar bin Khathab, masjid kaum Sunni di Sanandaj dengan beranda tuanya yang adem, Pegunungan Zagros yang membuat napas tertahan, dan puing Istana Persepolis yang menjadi bukti kemegahan peradaban Persia kuno, adalah di antara keeksotisan Iran yang kami saksikan dalam perjalanan itu.

Perjalanan mengelilingi Iran hanya kami lakukan dalam rentang waktu dua bulan. Namun, yang tertuang di buku ini sejatinya adalah catatan tentang warna-warni pelangi yang selama delapan tahun ini saya saksikan di Iran. Naskah buku ini selesai pertama kali tahun 2007 dan terbit pada tahun yang sama dengan judul Pelangi di Persia. Buku ini kemudian kami revisi dengan memfokuskan pada “jalan-jalan”-nya dan membuang banyak bagian dari catatan panjang kehidupan kami yang semula ada di buku pertama. Bagian-bagian yang—menurut para pembaca buku edisi pertama— paling menarik, tentu saja tetap kami simpan di buku ini. Kami melengkapinya juga dengan sejumlah tips jalan-jalan ke Iran dan kamus mini bahasa Farsi dengan harapan bisa bermanfaat bila Anda ingin mengunjungi Iran. Omidvaram lezzat bebarid! (*)

Sumber: Dina Sulaeman dalam buku Journey to Iran

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top