Kalimantan Timur, ID
26°C
Visibility: 10 km

Kiat Menyiapkan Dana Kesehatan di Tengah Pandemi Covid-19

DANA

Jakarta, beritaalternatif.com – Pandemi Covid-19 membuat banyak orang menyadari pentingnya memiliki anggaran kesehatan, baik dalam bentuk dana simpanan maupun asuransi kesehatan. Pasalnya, virus corona tidak pandang bulu, sehingga siapa pun bisa terkena risiko penularannya.

Tak cuma soal pandemi Covid-19, anggaran kesehatan sangat dibutuhkan lantaran tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan risiko kesehatan seperti sakit maupun kecelakaan bisa menimpa seseorang.

Belajar dari pandemi, semua lapisan masyarakat tergagap menangani dampaknya. Karenanya, persiapan anggaran kesehatan lebih baik ketimbang nantinya masyarakat juga tergagap mengatasi risiko kesehatan.

Lalu, apa saja anggaran kesehatan yang perlu disiapkan masyarakat dan bagaimana mempersiapkannya? Berikut sejumlah tips yang bisa Anda coba:

Persiapan Awal

Perencana keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto menuturkan, anggaran kesehatan dapat berupa dana simpanan maupun asuransi kesehatan. Untuk dana simpanan, diambil dari dana darurat yang hanya digunakan dalam kondisi mendesak. Salah satunya menangani risiko kesehatan.

Ia menuturkan, masyarakat masih membutuhkan dana simpanan tersebut walaupun sudah memiliki asuransi kesehatan. Pasalnya, tidak semua pengeluaran pengobatan ditanggung pihak asuransi.

“Sangat penting. Karena ada beberapa kondisi di mana asuransi tidak bisa cover (menanggung) atau belum terkover karena belum terbukti sakitnya,” jelas dia, Kamis (17/6/2021).

Dihubungi terpisah, Perencana Keuangan dari One Shildt Financial Planning, Aziza Fitriani menuturkan, langkah awal persiapan anggaran kesehatan adalah melihat kondisi keuangan. Sebelum memiliki asuransi kesehatan, sebaiknya masyarakat memiliki kecukupan dana darurat, kondisi arus kas baik, serta rasio utang ideal.

“Langkah awal tentu saja kita harus melihat kondisi keuangan kita dan menyesuaikannya,” ujar dia.

Besaran Anggaran Kesehatan

Eko menuturkan, dana darurat yang disiapkan termasuk di dalamnya untuk risiko kesehatan sebesar tiga sampai dengan enam bulan pengeluaran bulanan. Selain menangani risiko kesehatan, dana darurat tersebut dapat digunakan untuk menanggulangi gangguan finansial lainnya. Misalnya kehilangan sumber pendapatan karena PHK.

“Jadi, angkanya sekitar tiga sampai dengan enam bulan pengeluaran bulanan, termasuk di situ (dana darurat),” ujarnya.

Sementara itu, Aziza menuturkan, idealnya dana darurat sebanyak tiga sampai dengan 12 kali pengeluaran bulanan. Dana darurat tersebut sebaiknya dipisahkan antara tabungan masa depan, investasi, maupun asuransi kesehatan.

Sedangkan alokasi anggaran untuk asuransi kesehatan idealnya minimal 10 persen dari penghasilan. Namun, porsinya bisa ditambah berdasarkan kebutuhan dan kemampuan finansial masyarakat.

“Sebenarnya mengacu kepada minimum porsi asuransi adalah 10 persen dan dapat dimaksimalkan. Tergantung daripada kondisi keuangan masing-masing dan standar hidup,” katanya.

Memilih Asuransi Kesehatan

Eko mengatakan, untuk menentukan asuransi kesehatan, hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Cara mengukur kebutuhan salah satunya bisa dengan menanyakan biaya rawat inap pada fasilitas rumah sakit di dekat kantor maupun rumah.

“Kehidupan kita aktivitasnya kalau tidak di rumah ya di kantor. Kita mau kelas yang mana datangi rumah sakitnya, misalnya kelas satu, bagaimana bentuknya, berapa harganya, lalu sesuaikan dengan nilai asuransi,” ujarnya.

Selanjutnya, untuk memilih perusahaan asuransi, ia menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan kondisi keuangan dan pelayanan asuransi tersebut. Untuk aspek keuangan, bisa dilihat dari angka Risk Based Capital (RBC) perusahaan asuransi yang menggambarkan kondisi kesehatan asuransi tersebut.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan RBC minimum untuk menyatakan asuransi sehat dari sisi finansial minimum 120 persen.

“Nah, RBC itu bisa dijadikan patokan berapa RBC-nya. Semakin besar, semakin bagus. Minimal 120 persen,” katanya.

Sementara untuk melihat pelayanan asuransi, bisa diukur dari berapa banyak nasabah, keluhan nasabah, pelayanan di rumah sakit, dan sebagainya. Semua informasi tersebut bisa didapatkan di dunia maya, dari sumber-sumber yang kredibel, seperti media nasional, laman resmi perusahaan, asosiasi, lembaga edukasi, dan sebagainya. Masyarakat diimbau untuk melakukan riset dari sumber kredibel terlebih dulu sebelum memilih asuransi.

“Sekarang zaman sudah terbuka, internet sudah banyak, coba lihat bagaimana nasabahnya, banyak tidak ada, ada tidak keluhan di internet, bagaimana pelayanan di rumah sakit, itu dilihat. Dari dasar-dasar tadi kita bisa pilih asuransi yang cocok,” imbuhnya.

Plafon Asuransi Kesehatan

Aziza menuturkan, sebaiknya masyarakat memiliki asuransi kesehatan minimal BPJS Kesehatan yang merupakan jaminan sosial dari pemerintah. Namun, apabila memungkinkan dari sisi finansial, bisa menambah porsi asuransi swasta yang kredibel.

“Sebenarnya ini tergantung ke pribadi masing-masing, apakah dengan manfaat yang ada di BPJS Kesehatan sudah dirasa cukup memadai dengan standar hidup kita? Jika dirasa belum, maka perlu menambah asuransi lagi dari swasta selain yang didapat dari BPJS Kesehatan atau perusahaan tempat pemberi kerja,” ucapnya.

Selain jenis asuransi, masyarakat juga bisa menaikkan plafon manfaat asuransi apabila dirasa membutuhkan. Khususnya, dengan kemunculan pandemi Covid-19 yang meningkatkan risiko kesehatan. Namun, tentunya kenaikan plafon tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial masyarakat.

“Bagaimana mengukur kebutuhannya? Misalnya, kalau rawat inap kita harus sesuaikan dengan kebutuhan yang kita kejar, contoh kelas berapa yang kita inginkan, risiko apa saja yang ingin ditanggung, dan sebagainya,” ujar dia.

Eko menjelaskan, sebetulnya pemerintah telah menanggung biaya perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit. Namun, biaya tersebut tidak meliputi kebutuhan di luar standar pengobatan dari rumah sakit.

“Kalau merasa kurang bagus atau perlu penanganan lebih, bisa kover dengan asuransi,” tuturnya.

Selain itu, pasien Covid-19 juga masih membutuhkan dana secara mandiri untuk menjalankan protokol kesehatan hingga suplemen untuk mempercepat kesembuhannya. Oleh sebab itu, anggaran kesehatan penting untuk mengantisipasi risiko kesehatan. (cnn/ln)

Sumber: 4 Langkah Siapkan Dana Kesehatan di Tengah Pandemi Corona

DPW ABI Kaltim Silaturahmi ke Kesbangpol Kaltim Juli 26, 2021

Samarinda, beritaalternatif.com - Pada Senin (26/7/2021) siang, DPW Ahlulbait Indonesia Kalimantan Timur (ABI Kaltim) menyambangi kantor Kesbangpol...

Menyoal Inkonsistensi Penerapan Rehabilitasi terhadap Penyalahguna Narkotika Agustus 10, 2021

PENYALAHGUNAAN narkotika telah menjadi masalah serius di Indonesia. Barang haram tersebut tak hanya disalahgunakan orang-orang di kota besar, tetapi...

Pembatalan Pemberangkatan Jemaah Haji, Dubes: Bukan karena Hubungan RI-Saudi Buruk Juni 9, 2021

Jakarta, Beritalaternatif.com - Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia, Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi, bertemu dengan Majelis Ulama...

Anggaran Tak Lagi Tersedia, Kemensos Hentikan Bansos Tunai Juni 11, 2021

Penajam, Beritaalternatif.com - Dinas Sosial Kabupaten Penajam Paser Utara (Dinsos PPU) menyebutkan, pemerintah pusat menghentikan bantuan sosial...

Gencatan Senjata Belum Genap Sebulan, Israel Kembali Invasi Jalur Gaza Juni 16, 2021

Jalur Gaza, beritaalternatif.com - Pagi tadi, Rabu (16/6/2021), pesawat tempur Israel menumpahkan bomnya ke wilayah Palestina yang terblokade...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *