Ekonomi Makro

Dunia akan Diterpa Resesi, Aji Sofyan Peringatkan Pemerintah Indonesia soal Inflasi

BERITAALTERNATIF.COM – Perekonomian global diprediksi akan mengalami resesi pada tahun 2023. Pasalnya, saat ini negara-negara yang mempengaruhi perekonomian dunia seperti China, Amerika Serikat, Inggris, dan Rusia tengah menghadapi inflasi yang cukup tinggi.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman Samarinda Aji Sofyan Effendi menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan fenomena global yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia (external shock) tahun depan.

“Karena memang tidak ada satu pun negara di dunia ini yang tidak terkoneksi dengan negara lain dalam sebuah sistem makroekonomi,” jelas Sofyan kepada beritaalternatif.com pada Jumat (30/9/2022).

Apabila terjadi masalah di negara lain, sambung dia, maka akan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Pengaruhnya meliputi aspek pertumbuhan ekonomi, ekspor dan impor, serta inflasi.

Kata dia, kondisi Indonesia pada tahun 2023 akan bergantung pada kekuatan internal negara yang berlokasi di Asia Tenggara ini.

Saat ini, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkoreksi karena berbagai kondisi global. Dalam dua kuartal terakhir, rata-rata pertumbuhannya di atas 5 persen. Tahun depan, perekonomian negara ini pun akan mengalami penurunan.

“Walaupun turun karena kondisi global, tapi dia tidak signifikan. Pertumbuhannya mungkin masih di atas 4 persen. Artinya, tidak terlalu drop,” katanya.

Ia melanjutkan, tahun depan pertumbuhan ekonomi Indonesia terkoreksi karena perang Rusia-Ukraina serta keterpurukan ekonomi Eropa disebabkan kelangkaan energi.

Sofyan pun menekankan agar pemerintah mengembangkan pasar ekspor ke negara-negara lain yang potensial dapat menyerap berbagai produk dari Indonesia, sehingga defisit perdagangan tidak terlalu signifikan di tengah berbagai tekanan global.

Dia juga menyarankan agar pemerintah menstabilkan harga produk-produk di dalam negeri, sehingga inflasi tidak mencapai dua digit.

Krisis global saat ini, sambung Sofyan, disebabkan inflasi yang sangat tinggi di negara-negara yang mempengaruhi perekonomian dunia.

Ia mencontohkan Turki yang memiliki inflasi di atas 70 persen. Begitu juga negara-negara di Benua Eropa. Mereka menghadapi inflasi yang sangat tinggi karena kelangkaan energi disebabkan perang Rusia-Ukraina.

“Jangan sampai ada ekspor inflasi ke Indonesia,” ujarnya.

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tinggi juga dapat meningkatkan inflasi di Indonesia. Apalagi di tengah kondisi negara ini masih bergantung pada minyak dari Singapura.

Kata Sofyan, bahan baku BBM di Singapura berasal dari Indonesia. Celakanya, BBM yang diimpor negara ini dari Singapura sangat mempengaruhi nilai ekspor-impor migas Indonesia.

“Ini yang sedikit akan membahayakan perekonomian negara kita,” ucapnya.

Inflasi yang disebabkan kenaikan harga BBM, sambung dia, sangat berbahaya bagi perekonomian Indonesia. Pengaruh eksternal seperti perang Rusia-Ukraina, kelangkaan energi di Eropa, serta tekanan ekonomi di Timur Tengah, Amerika Serikat, dan China jauh lebih kecil dibandingkan inflasi yang disebabkan kenaikan harga BBM.

Sofyan menyebutkan bahwa inflasi di Indonesia umumnya disebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. “Makanya yang harus kita manajemeni itu inflasi kebutuhan pokok,” sarannya.

Apabila inflasi di Indonesia terus meningkat, maka masyarakat kelas menengah ke bawah akan merasakan dampak negatifnya. Pemutusan hubungan kerja pun akan meluas di berbagai daerah di Indonesia.

“Ini karena biaya produksi perusahaan yang tinggi. Efek biaya produksi tinggi, maka harga jualnya tinggi. Akibatnya, daya beli masyarakat menjadi rendah,” jelasnya.

Saat daya beli masyarakat rendah, perusahaan akan mengurangi kuantitas produksi. Akibat lanjutannya, perusahaan memutuskan untuk mengurangi tenaga kerja.

Sofyan mencontohkan kasus demikian yang saat ini melanda Eropa. Sebagian besar perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja. Tingkat pengangguran di Benua Biru pun meningkat drastis.

“Inflasi ini ibarat sebelumnya kita saat berada di kolam renang, air itu masih di leher kita. Begitu terjadi inflasi, kepala kita tenggelam. Kita tidak bisa bernafas. Potensi untuk kolaps semakin tinggi,” jelasnya. (um)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top