Ekonomi Makro

Indonesia Terkena Dampak Inflasi Negara-Negara di Asia Tenggara

BERITAALTERNATIF.COM – Lonjakan inflasi tengah melanda banyak negara mulai dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia Tenggara (ASEAN).

Baru-baru ini Singapura mengumumkan inflasi yang mencapai 6,7 persen secara tahunan pada Juni 2022, dengan inflasi inti yang mencapai 4,4 persen tertinggi sejak 2008 atau 14 tahun silam.

Selain Singapura, inflasi Malaysia menyentuh 3,4 persen pada Juni 2022. Angka itu melebihi prediksi ekonom yang hanya 3,1 persen. Kenaikan inflasi tersebut didorong oleh kenaikan harga makanan.

Negara ASEAN lainnya yang mengalami inflasi tertinggi adalah Laos, yakni 23,6 persen. Kemudian, Thailand 7,1 persen, Filipina 6,1 persen. Sedangkan, Vietnam masih di level yang relatif terkendali, yakni 3,37 persen.

Tingginya inflasi di negara-negara tetangga menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Indonesia.

Apakah Indonesia akan kembali mengalami lonjakan inflasi pada Juli? Pasalnya, pada Juni kemarin inflasi negara ini sudah melebihi target pemerintah 3-4 persen yaitu sebesar mencapai 4,35 persen, tertinggi sejak 2017 lalu.

Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan dampak dari inflasi yang terjadi di negara-negara tetangga jelas akan merembes ke Indonesia.

“Saya kira peluang untuk berpengaruhnya tetap ada. Seperti di Thailand ini penting untuk diperhatikan karena negara itu merupakan salah satu partner dagang utama dari Indonesia,” kata Yusuf, Senin (25/7/2022).

Selain itu, Thailand juga merupakan mitra dagang besar dari negara-negara ASEAN lain termasuk di dalamnya Singapura dan Malaysia

Artinya, menurut Yusuf, ketika Thailand mengalami inflasi maka potensi meningkatnya harga-harga di Negeri Gajah Putih yang dikirimkan ke Indonesia terbuka cukup lebar.

Inflasi Thailand juga bisa menyebabkan barang-barang yang dikirimkan dari negara mitra dagang, seperti Malaysia dan Singapura, ke Indonesia lebih mahal.

“Nah, inflasi ini sering dikenal dengan istilah imported inflation yang artinya inflasi yang disumbangkan oleh kenaikan harga barang-barang di luar negeri. Sehingga berdampak terhadap perubahan harga pokok ataupun produksi di produk-produk di dalam negeri,” katanya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menambahkan bahwa lonjakan inflasi yang terjadi di banyak negara baik Amerika, Eropa hingga ASEAN dipicu oleh faktor eksternal.

Imbasnya, Faisal memprediksi inflasi Indonesia akan terus naik hingga di atas 4 persen bahkan bisa mencapai 5 persen.

“Bukan apakah Indonesia akan terdampak atau tidak, tapi sebetulnya sudah kita rasakan. Jadi, inflasinya kan sudah naik sekarang. Secara satu semester itu sudah 3,19 persen. Kemungkinan besar memang akan melewati target pemerintah jadi di atas 4 persen, bahkan ada kemungkinan bisa 5 persen juga,” kata Faisal.

Menurutnya, tinggi rendahnya angka inflasi semua bergantung pada kondisi domestik suatu negara, dan kemampuan untuk meredam efek globalnya.

“Jadi, kalau untuk negara-negara yang banyak produksi dalam negeri, ini tentu saja akan lebih eksposur ke perdagangan internasional lebih kecil, seperti Indonesia itu efeknya lebih rendah,” katanya.

Sementara itu, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa sejauh ini kebijakan pemerintah masih menahan administered price khususnya harga energi, akan membuat komoditas tersebut belum setinggi negara-negara tetangga.

“Menjadi waspada kalau harga komoditas fluktuatif dan cenderung terkoreksi. Satu sisi, beban defisit terhadap migas dan subsidi energi makin tinggi. Tapi di sisi lain dari batu bara, sawit, nikel itu mulai berbalik arah, terkoreksi,” jelas Bhima.

Dalam kondisi tersebut, menurut Bhima, pemerintah bisa saja melakukan berbagai pembatasan jenis BBM, listrik dan elpiji.

Namun, imbuhnya, untuk kondisi saat ini inflasi di Indonesia tidak akan setinggi negara tetangga. Ia memperkirakan inflasi dalam negeri hanya sebatas 5 persen secara tahunan (yoy) sepanjang 2022.

“Selain energi, inflasi dari sisi volatile food atau bahan makanan yang perlu diwaspadai ini terjadi penurunan produksi luasan panen beras, kemudian gangguan cuaca di beberapa sentra produksi, ada lagi masalah mahalnya harga pupuk dan juga pembatasan alokasi pupuk untuk tanaman pangan strategis,” katanya.

Terkait inflasi inti, ia menuturkan, Indonesia masih cukup moderat dibandingkan negara tetangga karena daya beli masyarakat yang relatif rendah. Apalagi, momentum lebaran dan Ramadhan pun sudah lewat.

“Yang harus diwaspadai saat ini adalah dari sisi energi dan pangan. Bukan sisi demand-nya,” imbuh Bhima.

Sebelumnya, Bank Dunia mengatakan ancaman resesi ekonomi global sudah di depan mata dan sulit dihindari negara-negara di dunia.

Dalam laporan Global Economic Prospect June 2022 (GEP), Bank Dunia menyebutkan tekanan inflasi yang begitu tinggi di banyak negara tak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. (*)

Sumber: Berita CNN Indonesia berjudul Mengintip Nasib Indonesia di Tengah Lonjakan Inflasi Negara ASEAN

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top