Ekonomi Makro

Rhenald Kasali: Seharusnya BBM Tidak Perlu Disubsidi

BERITAALTERNATIF.COM – Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi seperti pertalite di Indonesia kerap dinikmati oleh orang-orang kaya yang menggunakan mobil-mobil mewah.

Pertalite acap digunakan oleh pengendara mobil mewah yang harganya senilai Rp 1 miliar. Perdiri Rumah Perubahan Prof. Rhenal Kasali menegaskan bahwa mereka mestinya tidak layak menggunakan BBM bersubsidi.

Di banyak negara selain Indonesia, ungkap Kasali, pemerintah tidak memberikan subsidi pada produk. Namun di Indonesia, sambung dia, tak banyak presiden yang berani mengambil langkah tersebut.

“Kalau mau jujur, sebenarnya BBM itu tidak perlu disubsidi. Yang perlu disubsidi apa? Yang perlu disubsidi adalah orang-orang yang miskin,” imbuh Guru Besar Universitas Indonesia tersebut sebagaimana dikutip beritaalternatif.com di kanal YouTube pribadinya pada Jumat (9/9/2022).

Kasali mengatakan, apabila seseorang tergolong miskin karena dia tidak memiliki rumah, maka pemerintah bisa memberikannya rumah.

Sementara masyarakat yang tidak memiliki listrik, pemerintah mesti memfasilitasinya untuk pemasangan listrik gratis. Kemudian, pemerintah harus memberikan uang kepada masyarakat miskin yang tidak mempunyai makanan.

Hal yang sama bagi masyarakat miskin yang tidak bisa mengakses layanan kesehatan. Mereka pun harus diberikan tunjangan kesehatan gratis.

Kasali menegaskan, pemerintah tetap memberikan subsidi kepada masyarakat, namun bukan dalam bentuk produk seperti subsidi BBM.

Orang-orang yang sudah memiliki kendaraan, sambung dia, tidak memerlukan lagi subsidi atas kendaraannya. “Kalau orang sudah punya kendaraan, sesungguhnya dia sudah tidak layak mendapatkan subsidi terhadap kendaraan ini,” ucapnya.

Kata dia, kebijakan seperti ini memang tidak populis. Pasalnya, kenaikan harga energi akan berdampak pada berbagai sektor.

Pasalnya, energi digunakan oleh masyarakat untuk memasak makanan, transportasi, usaha mikro, kesehatan, industri, serta sektor-sektor strategis lainnya. “Jadi, energi ini luas ke mana-mana,” jelasnya.

Ia pun menyentil orang-orang yang kerap mengatasnamakan rakyat dalam mengkritik kebijakan pemerintah terkait kenaikan harga BBM, serta pengalihan subsidi BBM ke Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Ia mencoba menelusuri tempat tinggal para pengkritik kebijakan pemerintah tersebut. Kenyataannya, mereka yang mengatasnamakan rakyat bermukim di apartemen-apartemen mewah yang seharga puluhan miliar rupiah seperti di daerah Kebayoran, Kemang, dan Pondok Indonesia.

“Tapi kok mereka bisa meng-entertain-kan kemiskinan dan kesulitan? Bahwa rakyat susah dengan harga energi mahal, ya itu betul. Tetapi, jangan kemudian kita membangkitkan saraf-saraf ini bahwa kita susah sekali,” katanya. (um)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top