Berita Utama

Ketua PIS: Indonesia Berada dalam Ancaman Kelompok Ekstremis

Kukar, beritaalternatif.com – Ade Armando terpilih menjadi Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) saat organisasi tersebut diluncurkan pada 23 Maret lalu.

Dikutip dari Channel CokroTV, Ade mengungkapkan, organisasi tersebut bertujuan mendorong orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk ikut serta menyelamatkan Indonesia.

“Mungkin ini dianggap tujuannya terlalu mengawang-awang atau terlalu besar. Namun, buat saya ini adalah perjuangan yang harus kita lakukan,” ucapnya sebagaimana dikutip beritaalternatif.com, Rabu (30/3/2022) sore.

Kata dia, sebagai masyarakat sipil, setiap orang harus melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing untuk menyelamatkan Indonesia.

Menurutnya, bila setiap warga negara di negeri ini tidak bergerak dan melakukan sesuatu, maka bangsa Indonesia akan menyesal di masa depan. “Harga yang harus dibayar nanti mungkin akan sangat besar kalau kita diam saja,” ucap Ade.

Deklarasi PIS pada pekan lalu menunjukkan bahwa banyak warga Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini.

Deklarasi PIS yang diselenggarakan di Ballroom Djakarta Theatre itu mendapat dukungan dari berbagai pihak, bahkan biaya untuk pembayaran gedung megah tersebut berasal dari seorang dermawan di Tanah Air.

“Dan dia bersedia membantu karena dia percaya sebuah gerakan memperjuangkan bangsa seperti yang kami lakukan memang harus ada di Indonesia,” jelasnya.

Mereka yang mendukung organisasi tersebut adalah orang-orang yang mempercayai bahwa bangsa ini adalah harta tak ternilai yang dikaruniai Tuhan.

Kata Ade, setiap orang harus merawat, melindungi, dan memperjuangkan nasib bangsa ini. Langkah itu diperlukan karena sebagian orang menganggap bangsa Indonesia dalam keadaan aman.

Di permukaan, sambung dia, Indonesia memang terlihat aman. Namun, sejatinya terdapat berbagai ancaman yang menghantui dan mengancam keberadaan bangsa Indonesia.

“Masalahnya, sekarang lahir satu imajinasi bahwa kita bukan satu bangsa. Ini terutama berkembang di kalangan yang lazim disebut sebagai kaum islamis,” ucapnya.

Ia menyebutkan, kaum islamis adalah mereka yang percaya bahwa umat Islam harus menegakkan syariat Islam yang berlandaskan Alquran, hadis, dan kesepakatan ulama di masa lalu.

Mereka percaya bahwa Indonesia harus menjadi negara Islam, bahkan bagi kelompok tersebut, mendirikan negara Islam merupakan kewajiban. “Dalam konteks itu, bangsa yang kita kenal sekarang ini harus kalah di bawah agama,” bebernya.

Merujuk Sayid Qutb dan Hasan al-Banna, menurut kelompok tersebut, ikatan kebangsaan harus ditempatkan di bawah ikatan keimanan atau keagamaan.

“Ini yang saya sebut sebagai ancaman bagi bangsa Indonesia. Dalam bentuk tertentu, semangat islamis ini dapat diwujudkan secara ekstrem. Misalnya saja terwujud sebagai gerakan teror,” terangnya.

Ade menjelaskan, kelompok tersebut dapat menghalalkan berbagai cara untuk mewujudkan misi mereka, termasuk membunuh orang-orang yang berbeda pandangan demi menghancurkan sistem demokrasi, yang kemudian diganti dengan sistem politik Islam yang diciptakan Tuhan.

“Mereka merasa memang berkewajiban membunuh kaum kafir karena menurut mereka itu adalah perintah Tuhan,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, gerakan tersebut kian berbahaya bagi Indonesia karena disebarkan melalui lembaga-lembaga strategis negara.

Penyebarannya dilakukan di perguruan tinggi, sekolah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan-perusahaan swasta, lembaga-lembaga negara, partai politik, masjid, media massa, dan tempat pengajian.

“Melalui semua jalur itulah gagasan tentang ‘kita Islam, mereka kafir’ disebarkan. Dalam semangat itu, muslim dan non-muslim bukanlah saudara. Muslim dan non-muslim tidak boleh bersahabat,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, kelompok islamis juga menekankan agar muslim dan non-muslim tidak perlu bekerja sama. Mereka diajarkan agar tidak mempercayai non-muslim.

Kelompok itu pun tidak mau mengucapkan ‘selamat Natal’ kepada umat Kristen. Mereka juga akan marah bila terdapat pembangunan gereja di lingkungan kelompok tersebut.

Ini pula yang mendasari kelompok islamis mengharamkan setiap orang memiliki pemimpin dari kalangan non-muslim.

“Karena itulah kita harus bersama-sama mengembalikan gagasan tentang Indonesia sebagai bangsa yang satu,” imbuhnya.

Ade menegaskan, Islam, Kristen, Katolik, Budha, Konghucu, serta kepercayaan lokal adalah bagian yang setara dan satu dalam bangsa Indonesia.

“Karena itu, terus perjuangkan imajinasi tentang bangsa Indonesia,” pungkas Ade. (*)

Penulis: Ufqil Mubin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top