Kutai Kartanegara

UMKT dan GLK Gali Ragam Potensi serta Sejarah di Balik Sungai Tempurung Desa Kutai Lama

BERITAALTERNATIF.COM – Sungai Tempurung di Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menyimpan banyak potensi alam, salah satunya minyak dan gas.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Program Studi S-1 Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Fajar Alam, pada Rabu (18/1/2023).

Dia mengungkapkan bahwa kawasan Kutai Lama telah lama diketahui memiliki potensi minyak dan gas serta kandungan batu bara.

Ia bersama sejumlah dosen UMKT pun akan melakukan eksplorasi potensi dusun, khususnya kondisi alam dan perubahan yang terjadi seiring perkembangan masyarakat Dusun Sungai Tempurung maupun aktivitas manusia pada kawasan Desa Kutai Lama.

Pemahaman potensi dusun yang ada, lanjut dia, dapat dimanfaatkan untuk kemungkinan potensi kunjung bidang kebumian, sejarah, pendidikan hingga mitigasi kebencanaan di kawasan tersebut.

“Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas yang sudah berlangsung sejak lama (masa kolonial) tentu akan memberikan kita wawasan lebih luas terhadap pemanfaatan sumber daya geologi yang ada pada daerah ini, juga kegiatan pertambangan batu bara yang marak pada kawasan ini,” terangnya.

“Kawasan Desa Kutai Lama juga memegang peran penting pada perkembangan kerajaan Kutai Kartanegara karena kerajaan bermula dari Jahitan Layar, lalu Tepian Batu, yang masuk wilayah Desa Kutai Lama saat ini sebelum berpindah ke Jembayan lalu Tenggarong. Perpaduan informasi pemanfaatan kondisi geologi dan informasi kesejarahan kawasan bisa membangun narasi tentang perkembangan sejarah kawasan,” ucap Fajar.

Berdasarkan hasil diskusinya dengan Gerakan Literasi Kutai (GLK) dan perusahaan batu bara Raja Kutai Baru Makmur (RKBM), Sungai Tempurung dimungkinkan memperoleh namanya karena ada alurnya yang memutari bagian gunduk tanah yang membentuk kesan tempurung. “Nama Sungai Tempurung juga ditemukan pada wilayah Sumatera Utara,” ungkapnya.

Sungai Tempurung di Kutai Lama, sambung dia, juga menyimpan banyak kisah sejarah, di antaranya kisah api abadi dan jalan yang diaspal di masa Belanda.

“Api abadi tersebut dimungkinkan terjadi karena aktivitas pengeboran di masa kolonial yang membuat sejumlah gas yang sebelumnya terperangkap dalam massa batuan, terbebas ke udara dan memantik pijar api. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut,” katanya.

Fajar menjelaskan, lebar Sungai Tempurung disebut mengalami penyempitan, yang dapat terjadi karena perubahan pemanfaatan lahan, sehingga menyebabkan peningkatan erosi pada kawasan yang ada dan sedimentasinya mengendap di Sungai Tempurung, membuat badan sungai menyempit.

“Dari informasi yang kami dapat bahwa sungai yang ada di Sungai Tempurung ini mulai mengecil karena erosi, tetapi untuk itu kami harus mendatangi langsung untuk memahami secara ruang dan waktu perihal dugaan tersebut atau ada faktor lainnya,” jelas Fajar.

Perwakilan PT RKBM Yassir mengungkapkan bahwa tapak jalan di dusun tersebut mengalami perubahan karena pengaruh alam.

“Mungkin kemudian sewaktu-waktu pernah dibor daerah itu dan terbukti ada gas atau minyak, sehingga menyebabkan pijar api itu terbuka,” jelasnya.

Diketahui, Dusun Sungai Tempurung didiami oleh warga transmigran sejak tahun 1980-an. Sebagian wilayahnya digunakan untuk pertanian dan budi daya kerbau.

Sejak tahun 1970, penggunaan kerbau sebagai sarana transportasi cukup populer. Hewan tersebut dapat mengangkut dan memindahkan kayu-kayu lokal ke kapal.

Memasuki tahun 2000, penggunaan kerbau tak lagi populer seiring perkembangan transportasi di era modern. (nf/um)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top