Ekonomi Makro

Dipicu Peningkatan Inflasi, Tingkat Kemiskinan Per September 2022 Capai 26,36 Juta Orang

BERITAALTERNATIF.COM – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan tingkat kemiskinan pada September 2022 meningkat dibanding Maret 2022.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menyebut pemicunya adalah inflasi.

Tingkat kemiskinan September 2022 tercatat sebesar 9,57 persen atau sebanyak 26,36 juta orang berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan, tingkat kemiskinan Maret 2022 sebesar 9,54 persen.

Ambang batas garis kemiskinan pada September 2022 meningkat sebesar 5,95 persen menjadi Rp 535.547 dari sebelumnya Rp 505.468 pada Maret 2022.

“Kenaikan tipis angka kemiskinan pada September 2022 terkait erat dengan kenaikan inflasi bahan pangan, pada periode Juni, Juli, Agustus, dan September, yang sempat mencapai puncaknya di 11,5 persen pada bulan Juli 2022,” kata Febrio dalam keterangan resminya, Selasa (17/1/2023).

Meski meningkat, namun angka ini sebenarnya menurun jika dibandingkan September 2021 yang menunjukkan kemiskinan sebesar 9,71 persen.

Menurut Febrio, tahun lalu perekonomian Indonesia dihadapkan pada tekanan inflasi yang bersumber dari peningkatan harga komoditas global, khususnya energi dan pangan, akibat perang di Ukraina.

“Keputusan Pemerintah untuk menaikkan subsidi energi menjadi Rp 551 triliun menjadi faktor utama menjaga angka kemiskinan. Selain juga gerak cepat menurunkan inflasi pangan,” ucapnya.

Secara spasial, tingkat kemiskinan per September 2022 naik tipis baik di perkotaan maupun di perdesaan. Tingkat kemiskinan di perkotaan naik menjadi sebesar 7,53 persen sedangkan Maret 2022 sebesar 7,5 persen.

Sementara, persentase penduduk miskin di perdesaan juga mengalami kenaikan menjadi 12,36 persen dari 12,29 persen pada Maret 2022.

Namun, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia atau Rasio Gini tercatat menurun 0,003 poin pada September 2022 sebesar 0,381 dari Maret 2022 yang mendapat 0,384 poin.

Penurunan Rasio Gini dipengaruhi oleh penurunan ketimpangan di perkotaan dan perdesaan, yang masing-masing menurun tipis 0,001 dari posisi Maret 2022.

“Upaya pemerintah untuk mendorong inklusivitas pertumbuhan ekonomi terlihat dari penurunan ketimpangan, baik di perkotaan maupun pedesaan. Bahkan, ketimpangan di pedesaan juga terus menunjukkan perbaikan dibandingkan level pra-pandemi,” papar Febrio.

Ia juga memperkirakan tingkat kemiskinan bakal menurun sebab inflasi bahan pangan (volatile food) menunjukkan tren penurunan signifikan dari September 2022 sebesar 9 persen year on year hingga Desember 2022 yang hanya 5,6 persen year on year.

“Ke depan, pemerintah perlu menjaga momentum penurunan inflasi dan mengakselerasi realisasi belanja pada Triwulan I 2023 untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan,” tegasnya. (*)

Sumber: CNN Indonesia

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top