Tokoh

Biografi Singkat Raden Patah, Pendiri Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa

BERITAALTERNATIF.COM – Raden Patah dikenal sebagai pendiri kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Raden Patah atau dikenal memiliki nama Tionghoa yakni Jin Bun atau yang kemudian dikenal dengan Senapati Jimbun atau Sultan Syah Alam Akbar al-Fatah. Ia merupakan Sultan Demak dan penguasa kerajaan Islam yang memiliki garis keturunan Tionghoa.

Raden Patah selaku pendiri kerajaan Demak telah memerintah kerajaan Demak sejak tahun 1500 hingga tahun 1518.

Menurut Babad Tanah Jawi yang dilansir oleh wikipedia.com, Raden Patah diketahui lahir pada tahun 1455 di Palembang yang kala itu masih merupakan wilayah kekuasaan Majapahit. Ia merupakan seorang putra dari Brawijaya V yang merupakan raja terakhir Majapahit.

Raden Patah juga merupakan anak dari seorang selir Tionghoa. Selir Tionghoa ini merupakan putri dari Kyai Batong atau yang dikenal juga dengan Tan Go Hwat. Hal tersebut terjadi karena Ratu Dwarawati yang merasa cemburu, akhirnya Raja Brawijaya pun terpaksa memberikan selir Tiongkok kepada adipatinya di Palembang, yaitu Arya Damar.

Ia pun menolak menggantikan Arya Damar menjadi Adipati Palembang. Sehingga ia akhirnya kabur ke Pulau Jawa dan ditemani oleh Raden Kusen. Sesampainya di Jawa, keduanya pun berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Kemudian Raden Kusen mengabdi ke Majapahit. Sementara Raden Patah pindah ke Jawa Tengah dan membuka hutan Glagahwangi menjadi sebuah pesantren.

Setelah mendirikan pesantren ternyata pesantren yang didirikan olehnya pun semakin mengalami kemajuan. Hal ini pun menimbulkan kekawatiran bagi Brawijaya alias Bhre Kertabhumi jika sewaktu-waktu Raden Patah berniat untuk melakukan upaya pemberontakan. Sehingga Raden Kusen yang waktu itu telah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.

Raden Kusen pun akhirnya menghadapkannya ke Majapahit. Brawijaya yang diidentifikasi merupakan Brawijaya V merasa terkesan oleh sesuatu yang dilakukan oleh pendiri kesultanan Demak ini. Sehingga ia pun akhirnya mau mengakuinya sebagai putranya.

Di dalam biografi Raden Patah, ia pun kemudian diangkat sebagai bupati. Selanjutnya pesantren Glagahwangi yang didirikannya diubah namanya menjadi Demak dengan ibu kota yang bernama Bintara.

Menurut kronik Tiongkok, pendiri kerajaan Demak ini telah pindah dari Surabaya ke Demak di tahun 1475. Kemudian ia menaklukkan Semarang pada tahun 1477 sebagai bawahan Demak. Hal itu membuat Kung-ta-bu-mi atau Bhre Kertabhumi di Majapahit menjadi resah dan juga khawatir.

Namun, berkat bujukan Bong Swi Hoo yang merupakan Sunan Ampel, akhirnya Kung-ta-bu-mi bersedia mengakui Jin Bun sebagai anak, dan meresmikan kedudukannya sebagai bupati di Bing-to-lo yang merupakan ejaan Tionghoa untuk Bintoro. Untuk versi perang dari Demak dan Majapahit terdapat beberapa versi. Untuk yang diberitakan di dalam naskah Babad dan serat, terutama yakni Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda.

Dikatakan bahwa Sunan Ampel melarang pendiri kesultanan Demak ini untuk memberontak pada Majapahit. Meskipun memiliki agama yang berbeda, Raja Brawijaya tetaplah ayah dari Raden Patah.

Ketika sunan Ampel telah tiada, ia akhirnya tetap melakukan penyerangan ke Majapahit. Sehingga untuk menetralisasi pengaruh agama lama, Sunan Giri kemudian menduduki takhta Majapahit selama 40 hari.

Dikatakan pula dalam biografi Raden Patah tentang perang yang terjadi antara Demak melawan Majapahit yakni versi Kronik Tiongkok dari kuil Sam Po Kong. Di mana ia juga memberitakan bahwa adanya perang yang terjadi antara Jin Bun melawan Kung-ta-bu-mi (Kertabumi) di tahun 1478.

Perang tersebut terjadi setelah kematian dari Bong Swi Hoo atau Sunan Ampel. Di sini, Jin Bun menggempur ibu kota Majapahit. Menurut versi Tiongkok, Perang antara Demak dan Majapahit berakhir dengan tertangkapnya Kung-ta-bu-mi alias Bhre Kertabhumi.

Ia dipindahkan ke Demak secara hormat. Sejak itu, Majapahit menjadi bawahan Demak dengan dipimpin seorang Tionghoa muslim bernama Nyoo Lay Wa sebagai bupatinya. Di tahun 1485, Nyoo Lay Wa tewas karena pemberontakan yang dilancarkan oleh kaum pribumi yang tidak setuju dengan kepemimpinan Nyoo Lay Wa.

Ia kemudian mengangkat Prabhu Natha Girindrawardhana Dyah Ranawijaya atau Pa-bu-ta-la yang juga merupakan menantu Kertabumi sebagai penguasa Majapahit.

Menurut catatan bangsa Portugis dan naskah Tiongkok, Perang antara Demak dan Majapahit terjadi kembali tatkala Pa-bu-ta-la bekerja sama dengan Portugis di Malaka yang membuat Raden Patah tidak senang.

Majapahit mengalami kekalahan melawan Demak, namun Pa-bu-ta-la diampuni karena ia merupakan menantunya. Kerajaan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah mengalami kemajuan pesat. Pemerintahannya dikenal sangat menjunjung tinggi toleransi beragama saat ia berkuasa.

Ini dibuktikan dengan tidak menyerang umat Hindu dan Budha. Walaupun sempat menyerang Majapahit, hal ini bukan dilatarbelakangi karena agama, melainkan karena politik.

Raden Patah juga diketahui mendirikan Masjid Agung Demak yang menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia. Ia juga menjadikan Masjid Agung Demak sebagai pusat pemerintahan dari kerajaan Demak.

Pendiri kerajaan Islam pertama di Jawa, Raden Patah diketahui wafat pada tanggal 1518 di Demak, Jawa Tengah dalam usia 63 tahun. Posisinya sebagai sultan Demak kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Pati Unus atau yang dikenal dengan Pangeran Sabrang Lor atau dalam naskah Tiongkok dikenal sebagai Yat Sun.

Raden Patah diketahui memiliki istri bernama Putri Solekha, Randu Singa dan Putri Dipati Jipang. Dari pernikahannya tersebut Raden Patah memiliki anak bernama Raden Surya atau Pati Unus, Raden Trenggono, Raden Kanduruwan, Raden Kikin dan Ratu Nyawa. (*)

Sumber: Biografiku.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top